Cherreads

Chapter 1 - JAVIER

Pagi itu terasa cerah. Matahari bersinar hangat di halaman sekolah, sementara para murid mulai berdatangan dengan wajah penuh semangat, malas, atau sekadar pasrah menghadapi hari pertama sekolah.

Di depan gerbang berdiri seorang pemuda bernama Zero.

Dengan tas di bahunya dan ekspresi santai, ia menatap bangunan sekolah barunya selama beberapa detik sebelum akhirnya berjalan masuk.

Langkahnya tenang, penuh percaya diri, seolah ia sudah tahu tempat itu akan menjadi panggung kekacauan berikutnya dalam hidupnya.

Setelah melihat papan kelas, Zero akhirnya sampai di depan kelas barunya.

Kelas 10 E.

Ia berdiri sejenak di depan pintu, lalu tanpa ragu membuka pintunya.

Suasana kelas yang tadinya ramai langsung sedikit teralihkan.

Di dalam kelas, beberapa murid sedang berkumpul mengelilingi seorang siswi cantik bernama Queen.

Seorang siswi perempuan yang duduk dekat Queen sedang berbicara dengan penuh antusias.

"Queen, kamu cantik banget hari ini. Boleh aku tahu cara kamu bisa secantik itu?"

Queen tersenyum kecil, tampak sudah terbiasa menerima pujian seperti itu.

Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu kelas terbuka.

Semua mata langsung tertuju ke arah Zero.

Zero melangkah masuk dengan santai.

Tatapannya menyapu seluruh kelas sampai akhirnya berhenti pada satu orang yang duduk di bagian belakang.

Begitu melihat orang itu, wajah Zero langsung berubah cerah.

Ia tersenyum lebar.

Di sana duduk Javier.

Javier yang awalnya sedang duduk santai langsung menatap Zero dengan ekspresi kaget bercampur tidak percaya.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Javier membuka mulut lebih dulu.

"Kenapa kau selalu ada di dekatku?"

Zero tersenyum makin lebar, lalu menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Karena kita gak akan terpisah sampai maut menjemput."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Zero berkedip ke arah Javier dengan santai.

Seisi kelas langsung diam.

Beberapa murid bahkan saling menoleh dengan ekspresi bingung.

Javier hanya menatap Zero dengan wajah datar selama beberapa detik, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tangannya dan memberikan jari tengah ke arah Zero.

Zero malah tertawa kecil.

"Wah, sambutan hangat."

Tanpa ragu, ia membalas dengan jari tengah juga.

Beberapa murid langsung melongo.

"Apaan sih mereka…?" bisik salah satu murid.

Namun Zero dan Javier sama sekali tidak peduli.

Zero langsung berjalan ke arah bangku Javier dan duduk di sampingnya seolah itu memang tempat duduk yang sudah ditakdirkan untuknya.

"Main game, mau gak?" tanya Zero santai.

Javier meliriknya sekilas.

"Main apa?"

"ML aja."

Javier mengangguk pelan.

"Boleh. Kau apa aku exp aja?"

Zero langsung menjawab, "Aku exp aja."

"Oke. Kalau begitu aku room."

Tanpa peduli pada tatapan seluruh kelas, mereka langsung mengeluarkan HP dan mulai bermain seolah dunia di sekitar mereka sudah tidak penting lagi.

Di sisi lain kelas, beberapa murid mulai berbisik-bisik.

"Mereka berdua aneh banget."

"Iya, baru masuk langsung saling kasih jari tengah."

"Terus sekarang malah duduk bareng dan main game."

"Aneh sih, tapi lucu juga."

Queen yang tadi menjadi pusat perhatian pun ikut melirik ke arah mereka berdua. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa penasaran, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Tak lama kemudian, seorang guru wanita masuk ke dalam kelas.

Suasana yang tadinya ramai langsung sedikit lebih tenang.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Pagi, Bu…" jawab murid-murid hampir bersamaan.

Guru itu berdiri di depan kelas sambil membawa buku dan daftar nama.

"Oke, karena ini hari pertama dan Ibu belum hafal nama kalian, sekarang kita akan perkenalan satu per satu. Mulai dari sebelah kiri, ya."

Satu per satu murid mulai berdiri dan memperkenalkan diri.

Namun di bagian belakang, Javier dan Zero masih sibuk dengan permainan mereka.

"Woi, cover atas," bisik Zero sambil menatap layar.

"Lah, kau jangan maju sendiri," balas Javier pelan.

Guru yang sedang memperhatikan murid-murid satu per satu akhirnya menyadari dua manusia yang sama sekali tidak peduli pada dunia pendidikan itu.

"Kamu yang di belakang, nama kamu siapa?" tanya guru sambil menunjuk ke arah Javier.

Javier masih menatap layar beberapa detik sampai Joe—murid yang duduk di dekat mereka—menepuk lengannya.

"Bro, dipanggil."

Javier tersadar dan langsung berdiri.

"Nama saya Javier."

Guru mengangguk sambil tersenyum.

"Oke, Javier. Hobi kamu apa?"

"Main game."

"Hanya game?"

"Iya."

Guru tertawa kecil.

"Hehe, cuma game saja? Gak ada yang lain?"

"Gak ada."

"Oke… kalau bakat?"

Javier menjawab tanpa ekspresi.

"Gak ada bakat sama sekali."

Beberapa murid mulai tertawa kecil.

Guru tampak menahan senyum.

"Baiklah. Jujur sekali, ya. Oke Javier, silakan duduk."

Javier duduk kembali.

Guru lalu melihat ke sampingnya.

"Nah, sekarang yang di samping Javier. Silakan perkenalan."

Zero berdiri sambil masih memegang HP.

"Nama saya Zero. Hobi saya main game… dan saya juga gak ada bakat."

Guru mengangkat alis.

"Gak ada bakat juga?"

"Iya, Bu."

"Beneran? Bakat apa saja gitu?"

Zero terdiam sejenak, seolah benar-benar sedang memikirkan jawabannya dengan serius.

Ia menaruh jarinya di bawah bibir sambil menatap kosong ke depan.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepala.

"Kalau dipikir-pikir…"

Ia menatap guru dengan wajah polos.

"Ada sih, Bu."

Guru tampak penasaran.

"Bakat apa?"

Zero menjawab dengan tenang.

"Menghina orang. Mau saya praktek?"

Kelas langsung hening.

Guru membeku di tempat.

"Gak, gak usah!" jawab guru cepat.

Zero mengangguk pelan.

"Oke, Bu."

Selama dua detik, kelas benar-benar diam.

Lalu…

HAHAHAHA!

Satu kelas langsung meledak tertawa.

"Apaan itu bakat!"

"Bakat menghina orang?!"

"Orang ini aneh banget!"

Bahkan Javier yang biasanya berwajah datar tampak menunduk sedikit, menahan tawa.

Guru berdeham pelan, mencoba mengembalikan suasana.

"Oke… mungkin Zero hanya bercanda, ya."

Zero duduk kembali dengan santai, seolah ia tidak baru saja membuat satu kelas hampir tersedak karena tertawa.

Setelah semua murid selesai memperkenalkan diri, guru mulai membuka pelajaran pertama.

"Baik, karena hari ini kita mulai belajar, sekarang

kita akan membahas tentang ekosistem alam."

Beberapa murid langsung terlihat lesu.

Termasuk Zero.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi dan menguap lebar.

"Huah…"

Ia menoleh ke Javier.

"Masih lama bel istirahat, ya?"

Javier meliriknya sekilas.

"Hadeh. Baru juga masuk kelas pertama, udah ngantuk aja."

Zero menatap papan tulis dengan tatapan kosong.

"Pelajaran pertama langsung ekosistem. Aku udah merasa jadi tumbuhan."

Javier menahan senyum.

Sementara guru menjelaskan tentang rantai makanan, hubungan antar makhluk hidup, dan keseimbangan alam, Zero sudah hampir tertidur di tempat.

Waktu berjalan sangat lambat.

Sangat, sangat lambat.

Sampai akhirnya—

Teng! Teng! Teng!

Bel istirahat berbunyi.

Zero langsung duduk tegak.

"Akhirnya hidup."

Javier menghela napas panjang.

"Kau lebay banget."

"Biarin."

Tanpa membuang waktu, Zero dan Javier langsung mengeluarkan bekal dari rumah.

Mereka makan sambil tetap membicarakan

game, seolah itu adalah satu-satunya topik penting di dunia.

Di tengah makan, Zero tiba-tiba menoleh ke Javier.

"Javier."

"Hm?"

"Nanti ada turnamen game. Mau ikut gak? Sebentar lagi aku daftar buat kita."

Javier berhenti makan sejenak, lalu menggeleng.

"Gak deh."

Zero mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Lagi sibuk latihan."

"Latihan apa?"

Javier menatap Zero dengan wajah datar.

"Biar gak kalah terus pas main sama kau."

Zero terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil.

"Kurang ajar."

"Fakta."

Zero mendengus pelan, lalu kembali makan.

"Oke lah. Kapan-kapan aja."

Javier mengangguk kecil.

Mereka kembali makan dalam suasana santai, sesekali saling mengejek tanpa alasan yang jelas.

Di sudut lain kelas, beberapa murid masih memperhatikan mereka berdua.

Bukan karena mereka ribut.

Tapi karena entah kenapa, dua orang itu terasa seperti masalah yang belum terjadi.

Dan anehnya…

itu justru membuat suasana kelas terasa jauh lebih hidup.

Bagi Zero, hari pertamanya di sekolah baru

ternyata tidak membosankan sama sekali.

Dan bagi Javier…

kedatangan Zero mungkin akan menjadi awal dari banyak kekacauan yang akan datang.

Namun untuk saat ini, mereka hanya dua orang teman aneh yang duduk berdampingan di kelas 10 E, bermain game, saling menghina, dan bertingkah seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Dan entah kenapa…

itu terasa seperti awal dari persahabatan yang akan sulit dilupakan.

More Chapters