Cherreads

Chapter 4 - 3. Masa Lalu Kenan Dan Kiara (Part 3)

Sore itu turun perlahan di atas halaman rumah dinas yang luas, membiarkan cahaya matahari merayap lembut di antara batang-batang pohon tua yang berdiri kokoh seperti penjaga yang diam. Udara terasa hangat, tidak terlalu panas, tidak pula dingin tapi cukup untuk membuat siapa pun betah berlama-lama di luar. Di tengah halaman itu, seorang gadis kecil berlari dengan langkah ringan, sesekali hampir tersandung oleh kakinya sendiri, namun selalu diakhiri dengan tawa kecil yang jernih. Kiara menggenggam sebuah pesawat kertas di tangannya, lipatannya tidak sempurna, ujungnya sudah sedikit kusut, tetapi cara ia memandang benda itu menunjukkan bahwa baginya, itu bukan sekadar kertas biasa.

Ia melemparkannya ke udara dengan penuh harap, memperhatikan dengan serius bagaimana pesawat itu meluncur miring sebelum akhirnya jatuh beberapa langkah di depannya. Kiara berhenti, menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil seolah kegagalan itu sama sekali tidak berarti. Ia berlari lagi, mengambil pesawat itu, dan mencoba sekali lagi tanpa ragu, seakan dunia ini masih begitu sederhana seperti tempat di mana jatuh hanyalah bagian dari permainan.

"Kiara."

Suara itu datang dari arah rumah, dalam dan tenang, namun cukup untuk membuat langkah kecil itu terhenti. Kiara menoleh cepat, dan dalam sekejap, wajahnya berubah cerah seperti langit yang baru saja dibersihkan dari awan.

"Ayah!"

Ia berlari tanpa pikir panjang menuju pintu, langkahnya cepat dan sedikit tidak teratur karena terburu-buru. Di ambang pintu berdiri Kolonel Mahendra Pratama, sosok yang selalu tampak kokoh dalam seragam rapi yang melekat di tubuhnya. Namun jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang berbeda, napasnya sedikit lebih berat, bahunya seolah menahan beban yang tidak terlihat. Meski begitu, saat melihat anak perempuannya berlari ke arahnya, senyum tipis tetap muncul di wajahnya, menutupi semua kelelahan itu dengan mudah.

"Pelan-pelan," ucapnya, suaranya rendah namun hangat.

Kiara tetap menabraknya dalam pelukan, membuat Mahendra sedikit terhuyung sebelum akhirnya membalas pelukan itu. Tangannya merengkuh tubuh kecil itu dengan erat, lebih erat dari kebiasaannya, seolah ia ingin memastikan bahwa anak itu benar-benar ada di dalam genggamannya. Ia mengusap rambut Kiara yang berantakan dengan lembut, membiarkan momen itu berlangsung sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia melepaskannya perlahan.

"Kamu sedang apa?" tanyanya.

"Aku bermain pesawat, Ayah," jawab Kiara cepat sambil mengangkat kertas di tangannya. "Namun pesawatnya tidak mau terbang jauh. Selalu jatuh."

Mahendra menatap pesawat itu sejenak, lalu berjongkok di hadapan Kiara, menyamakan tinggi mereka. Tangannya yang besar menerima kertas itu dengan hati-hati, lalu mulai merapikan lipatannya satu per satu dengan kesabaran yang jarang ia tunjukkan dalam hal lain. Kiara memperhatikannya dengan serius, matanya mengikuti setiap gerakan jari ayahnya tanpa berkedip, seolah apa yang sedang dilakukan itu adalah sesuatu yang sangat penting.

"Jika ingin terbang jauh," ujar Mahendra pelan, "pesawat ini harus seimbang. Tidak boleh berat sebelah."

"Seimbang?" ulang Kiara, sedikit bingung.

Mahendra mengangguk. "Ya. Jika satu sisi lebih berat, ia akan jatuh. Tetapi jika seimbang, ia bisa terbang lebih jauh."

Kiara mengangguk kecil, meskipun belum sepenuhnya memahami, lalu menerima kembali pesawat itu saat Mahendra selesai merapikannya. Ia mundur beberapa langkah, menarik napas kecil, dan melemparkannya lagi dengan lebih hati-hati.

Pesawat itu meluncur lebih lurus kali ini.

Lebih stabil.

Dan terbang lebih jauh dari sebelumnya.

Mata Kiara langsung membesar, lalu senyum lebar muncul di wajahnya. Ia berlari mengejar pesawat itu dengan tawa yang lepas, sementara Mahendra tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan tatapan yang perlahan berubah menjadi lebih lembut. Ada sesuatu dalam momen sederhana itu yang membuatnya enggan berpaling seolah ia tahu bahwa waktu seperti ini tidak akan datang selamanya.

Saat Kiara kembali, napasnya sedikit terengah namun wajahnya masih dipenuhi kegembiraan. Ia langsung bercerita tanpa jeda, suaranya cepat dan penuh semangat.

"Ayah melihatnya? Tadi sangat jauh! Ayah benar-benar hebat!"

Mahendra tersenyum tipis. "Bukan Ayah yang hebat. Kamu yang belajar."

Kiara menggeleng cepat. "Tidak. Ayah yang mengajarkan."

Mahendra tidak membantah lagi. Ia hanya mengusap kepala Kiara dengan lembut, jemarinya bergerak perlahan seolah ingin mengingat setiap helai rambut yang disentuhnya. Angin sore kembali berembus, membawa suasana yang tiba-tiba terasa lebih tenang tapi terlalu tenang.

"Kiara," panggilnya pelan.

"Ya, Ayah?"

Mahendra terdiam sesaat, menatap wajah anaknya yang masih begitu polos, begitu yakin bahwa dunia tidak akan berubah.

"Jika suatu hari nanti Ayah tidak ada…"

Kalimat itu menggantung di udara.

Kiara langsung mengerutkan kening, ekspresinya berubah tidak suka. "Aku tidak mau," potongnya cepat. "Ayah harus tetap ada."

Mahendra menatapnya lama, lalu menarik napas perlahan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun terasa terlalu berat untuk diucapkan pada anak sekecil itu.

"Dengarkan Ayah," ujarnya akhirnya, suaranya lebih lembut. "Jika suatu hari nanti Ayah tidak ada, kamu harus tetap kuat."

Kiara menggeleng lagi, kali ini lebih pelan. "Aku tidak ingin kuat jika tidak ada Ayah…"

Suara itu kecil, hampir seperti bisikan, namun cukup untuk membuat Mahendra menutup matanya sejenak. Ia menarik Kiara ke dalam pelukan lagi, memeluknya lebih erat dari sebelumnya, seolah ingin menahan waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

"Kiara," bisiknya di atas kepala anak itu, "Ayah akan selalu ada… meskipun tidak di sini."

Kiara tidak menjawab.

Ia hanya memeluk balik lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya, seolah itu adalah tempat paling aman yang tidak akan pernah hilang.

Sore itu terus berjalan seperti biasa.

Langit perlahan berubah warna.

Dan tanpa disadari oleh Kiara, hari itu adalah salah satu hari terakhir di mana dunianya masih utuh.

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari lebih sering berdiam di rumah, Kolonel Mahendra memutuskan untuk kembali ke kantor meskipun bukan untuk bekerja penuh seperti biasanya. Langkahnya masih tegap, seragamnya tetap rapi tanpa cela, seolah tubuhnya menolak menunjukkan kelemahan yang perlahan menggerogoti dari dalam. Namun ada satu hal yang berbeda hari itu.

Ia tidak datang sendirian.

Di sampingnya, dengan langkah kecil yang sedikit tertinggal lalu berlari menyusul, Kiara menggenggam ujung tangan ayahnya dengan erat. Matanya bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, memperhatikan setiap sudut bangunan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. Baginya, kantor itu terasa seperti dunia yang besar dan asing lorong-lorong panjang, suara langkah kaki yang menggema, serta orang-orang berseragam yang berjalan dengan wajah serius.

Namun di samping ayahnya, semua itu tidak terasa menakutkan.

"Pegang tangan Ayah yang kuat," ujar Mahendra pelan tanpa menoleh.

"Iya, Ayah," jawab Kiara patuh, jemarinya justru semakin mengerat.

Beberapa prajurit yang berpapasan langsung memberi hormat. Mahendra membalas singkat, sementara Kiara memperhatikan dengan mata berbinar, seolah sedang melihat sesuatu yang hebat.

"Ayah sangat hebat," bisiknya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Mahendra mendengarnya.

Dan hanya tersenyum tipis.

Ia membawa Kiara masuk ke ruang kerjanya, membiarkan anak itu duduk di kursi di sudut ruangan dengan sebuah kertas dan pensil yang sengaja ia siapkan. Kiara langsung sibuk menggambar, kakinya bergoyang kecil di bawah kursi, sesekali melirik ke arah ayahnya yang mulai membuka berkas-berkas di meja.

Namun tidak lama kemudian, suara ketukan terdengar di pintu.

"Masuk."

Pintu terbuka, dan seorang pria muda dengan seragam rapi melangkah masuk dengan sikap tegap dan tatapan yang tajam. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer ruangan lebih formal, lebih teratur, seolah dunia militer kembali mengambil alih ruang yang tadi sempat terasa hangat.

Kenan Aryasatya.

Ia memberi hormat singkat. "Selamat pagi, Pak."

Mahendra mengangguk. "Masuk."

Percakapan dimulai seperti biasa tentang laporan, tentang strategi, tentang hal-hal yang tidak pernah benar-benar dimengerti oleh anak kecil. Suara mereka datar, tegas, dan terukur. Namun di tengah pembicaraan itu, tanpa sadar, ada sepasang mata kecil yang mulai memperhatikan.

Kiara.

Ia mengenali sosok itu.

Dan dalam sekejap, wajahnya berubah cerah.

"Paman Kenan!"

Suara itu memotong suasana formal begitu saja.

Kenan yang sedang berbicara langsung berhenti sejenak, pandangannya bergeser ke arah suara itu. Untuk sepersekian detik, ekspresinya tetap datar seperti biasa namun perlahan, sesuatu di matanya melunak.

Ia sedikit menurunkan sikap tegapnya.

"Kiara."

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk membuat Kiara langsung berdiri dari kursinya dan berlari kecil mendekat, langkahnya penuh semangat yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kapan Paman datang?" tanyanya cepat, tanpa jarak.

"Baru saja," jawab Kenan singkat.

Kiara tersenyum lebar, lalu berdiri di dekatnya tanpa ragu, seolah kehadiran pria itu adalah sesuatu yang selalu ia nantikan. Tidak ada rasa canggung, tidak ada jarak hanya kepercayaan polos seorang anak kecil.

Mahendra memperhatikan dari balik meja.

Diam.

Tanpa menyela.

Kenan mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya, sebuah permen kecil yang dibungkus rapi lalu menyerahkannya tanpa banyak kata.

"Untukmu."

Kiara langsung menerimanya dengan kedua tangan, wajahnya bersinar seketika. "Terima kasih, Paman!"

Ia tidak langsung memakannya.

Ia hanya menggenggamnya, seolah itu sesuatu yang terlalu berharga untuk dihabiskan begitu saja.

"Paman baik sekali," tambahnya polos.

Kenan tidak menjawab.

Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.

Percakapan pekerjaan kembali berlanjut, tapi suasananya sudah berubah. Kiara tidak kembali ke kursinya. Ia tetap berdiri di dekat Kenan, sesekali melirik, sesekali tersenyum sendiri, seolah hanya dengan berada di dekat pria itu sudah cukup membuatnya merasa senang.

Dan di balik semua itu

Mahendra melihat.

Melihat dengan lebih dalam dari yang terlihat.

Tatapannya tidak lagi sekadar seorang atasan yang mengamati bawahannya, melainkan seorang ayah yang sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar urusan pekerjaan. Ia memperhatikan cara Kiara berdiri tanpa takut di dekat Kenan, cara anak itu tersenyum tanpa ragu, cara kehadiran pria itu mampu membuat dunianya yang kecil terasa lebih hidup.

Hening menyelinap di antara pikirannya.

Dia percaya padanya…

Pikiran itu muncul begitu saja.

Bukan sebagai asumsi.

Tapi sebagai keyakinan yang perlahan terbentuk.

Mahendra menurunkan pandangannya sejenak, jemarinya yang memegang pena berhenti bergerak. Ada sesuatu yang menekan di dadanya, bukan hanya karena penyakit yang ia rasakan, tapi karena kesadaran yang semakin jelas bahwa waktunya mungkin tidak selama yang ia harapkan.

Dan jika saat itu benar-benar datang, siapa yang akan menjaga Kiara?

Pertanyaan itu tidak lagi terasa samar.

Jawabannya ada di depan matanya.

Seorang pria muda yang berdiri tegap, disiplin, tidak banyak bicara, namun selalu hadir dengan cara yang konsisten. Seseorang yang, meskipun kaku, tidak pernah mengabaikan anak kecil yang bahkan bukan tanggung jawabnya.

Seseorang yang tanpa diminta, sudah mulai mengisi ruang kecil dalam dunia Kiara.

Mahendra mengangkat pandangannya kembali, menatap Kenan lebih lama dari biasanya. Ada penilaian di sana, ada pertimbangan, tapi juga ada sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan.

Jika ada yang bisa menjaganya…itu dia.

Kiara tertawa kecil di samping Kenan, membuka bungkus permen itu dengan susah payah sebelum akhirnya berhasil. Ia menoleh ke arah ayahnya, mengangkat permen itu sedikit.

"Ayah mau?"

Mahendra tersenyum tipis.

"Untukmu saja."

Kiara mengangguk, lalu memasukkannya ke mulut dengan senyum puas. Rasa manis sederhana itu memenuhi dunianya.

Dan tanpa ia sadari, di ruangan yang sama, sebuah keputusan besar sedang perlahan terbentuk. Keputusan yang suatu hari nanti akan mengikat hidupnya… dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Mahendra berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, memperhatikan dari balik kaca bagaimana Kiara kecil masih tertawa di luar bersama Kenan. Suara tawa itu samar-samar masuk ke dalam ruangan, ringan, jernih terdengar begitu asing di lingkungan yang biasanya dipenuhi perintah dan ketegangan. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, tangannya terlipat di belakang punggung, napasnya tertahan seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.

"Dia tidak seperti itu dengan semua orang," ucap Mahendra akhirnya, suaranya rendah namun jelas.

Kenan yang berdiri di samping meja langsung mengalihkan pandangannya dari berkas yang tadi sempat ia periksa. "Maksud Bapak?" tanyanya, nada suaranya tetap formal, tapi ada sedikit perhatian yang terselip di dalamnya.

Mahendra menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke arah luar. "Kiara bukan anak yang mudah akrab," lanjutnya, lebih pelan kali ini, seolah setiap kata yang keluar memiliki beban tersendiri. "Sejak ibunya pergi… dia berubah. Menjadi lebih diam. Lebih tertutup. Bahkan kepada orang-orang yang sudah lama ia kenal."

Hening sesaat mengisi ruangan.

Kenan tidak langsung menanggapi. Ia mengikuti arah pandang Mahendra, melihat gadis kecil itu yang kini sedang berjongkok di lantai lorong, entah sedang menunjukkan sesuatu dengan penuh semangat. Ekspresinya hidup, matanya berbinar, jauh dari gambaran anak yang sulit dekat dengan orang lain.

Mahendra tersenyum tipis, namun ada kelelahan yang jelas di sana.

"Awalnya aku kira itu hanya fase," lanjutnya. "Anak kecil yang kehilangan ibunya, wajar jika ia menjadi lebih pendiam. Tapi waktu berjalan… dan dia tetap seperti itu. Tidak banyak bicara. Tidak banyak meminta. Bahkan terkadang… terlalu mandiri untuk usianya."

Ia berhenti sejenak, menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya.

"Sebagai ayah, seharusnya aku bisa mengisi kekosongan itu," tambahnya, kali ini dengan nada yang lebih dalam, lebih jujur. "Tapi aku tidak pernah benar-benar berhasil."

Kenan menatapnya sekilas, lalu kembali ke arah luar. Rahangnya sedikit mengeras, namun ia tetap diam, memberi ruang bagi atasannya untuk berbicara.

"Dia punya trauma ditinggalkan," ucap Mahendra akhirnya, langsung pada inti yang selama ini tidak pernah ia katakan dengan lantang. "Dan anak seperti itu… biasanya akan menjaga jarak. Mereka takut terlalu dekat, karena mereka tahu rasanya kehilangan."

Kalimat itu menggantung.

Berat.

Nyata.

Di luar, Kiara tertawa lagi, suara kecil yang kontras dengan isi percakapan di dalam ruangan itu. Mahendra menghela napas panjang, lalu menoleh sedikit ke arah Kenan. "Tapi anehnya… denganmu, dia berbeda."

Kenan tidak langsung menjawab.

Ia masih memperhatikan Kiara, yang kini menarik lengan bajunya sendiri sambil berbicara cepat, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat penting.

"Dia tertawa," lanjut Mahendra pelan. "Dia berlari menyambutmu. Dia berbicara tanpa ragu. Hal-hal yang bahkan tidak ia lakukan padaku akhir-akhir ini."

Nada suaranya tidak mengandung kecemburuan.

Hanya keheranan… dan sedikit kelegaan.

Kenan akhirnya mengalihkan pandangannya. "Mungkin karena saya sering datang, Pak," jawabnya singkat, mencoba tetap berada di batas profesional yang selama ini ia jaga.

Mahendra menggeleng pelan. "Bukan itu," katanya. "Ada banyak orang yang datang dan pergi di hidupnya. Tapi tidak semua bisa membuatnya merasa aman."

Hening kembali jatuh, kali ini lebih tenang.

Mahendra menatap Kenan lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat di permukaan. "Anak kecil tidak pernah salah dalam memilih rasa nyaman," lanjutnya. "Mereka tidak berpikir rumit seperti kita. Mereka hanya tahu… siapa yang membuat mereka merasa tidak sendirian."

Kenan tidak menjawab, tapi bahunya sedikit menegang.

Di luar, Kiara tiba-tiba menoleh ke arah jendela, seolah merasakan sedang diperhatikan. Begitu matanya bertemu dengan Kenan, ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan kecilnya dengan antusias.

Refleks.

Kenan mengangkat tangannya sedikit sebagai balasan.

Gerakan kecil yang hampir tidak terlihat.

Namun cukup.

Mahendra memperhatikan itu semua dalam diam. Lalu, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ada sesuatu yang lebih ringan di wajahnya—sebuah keyakinan yang perlahan menguat.

"Setidaknya sekarang aku tahu," gumamnya pelan.

Kenan menoleh. "Apa, Pak?"

Mahendra kembali menatap ke luar, ke arah putrinya yang masih berdiri di sana dengan senyum polosnya.

"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak ada…" ucapnya pelan, "…dia tidak akan sepenuhnya sendirian."

Kali ini, Kenan tidak menyela. Tidak juga membantah.

Ia hanya berdiri di sana, diam, dengan tatapan yang kembali tertuju pada sosok kecil di luar ruangan, tanpa menyadari bahwa, sejak saat itu, ia sudah mulai menempati tempat yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Tempat yang suatu hari nanti akan menjadi terlalu dalam untuk ia tinggalkan.

More Chapters