Cherreads

Chapter 11 - Bab 10: Tepi Kehancuran

Suara tetesan air yang jatuh dari pipa uap yang bocor terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur di aula utama Silver Compass. Di papan tugas yang terletak di sudut ruangan, sebuah perkamen berwarna merah tua baru saja dipaku. Di Lorgar, warna merah berarti satu hal: darah akan tumpah, dan bayarannya sebanding dengan risikonya.

​Arlan Vane berdiri di depan papan itu, matanya yang tajam memindai baris demi baris tulisan tangan yang terburu-buru.

​“Misi Pembersihan: Geng Taring Karat. Lokasi: Gudang Pengolahan Limbah Sektor 7. Target: Pemusnahan operasional distribusi 'Debu Ungu'. Risiko: Tinggi. Peserta: Minimal 4 orang Rank 2.”

​'Debu Ungu' adalah sejenis stimulan terlarang yang mulai mewabah di kalangan pekerja pabrik. Obat itu memberikan energi buatan selama dua belas jam, namun setelahnya, tubuh pengguna akan mulai membusuk dari dalam. Kabarnya, bahan bakunya melibatkan limbah mistis yang belum dimurnikan.

​"Tiga puluh koin emas untuk seluruh tim," suara berat Silas terdengar dari balik meja resepsionis. "Itu cukup untuk membuatmu tidak perlu mengambil misi selama tiga bulan, Vane."

​Arlan terdiam sejenak. Pikirannya menghitung. Sewa kamar, biaya panti asuhan yang membengkak karena musim dingin, dan harapannya untuk membeli "Intisari Cair" guna memperkuat sumsum tulangnya—sebuah langkah krusial sebelum menyentuh Rank 3.

​"Aku ikut," jawab Arlan pendek.

​Ia tidak sendirian. Tiga orang lainnya telah bergabung: Gorn, seorang pria raksasa pengguna Aura tipe Fortress yang membawa palu godam; Kael, seorang pemuda licin dengan belati kembar; dan seorang wanita bernama Rina yang memiliki Jalur Mana tipe Elemental (Api) Rank 2.

​Pukul dua dini hari, saat kota Lorgar tertidur di bawah selimut polusi, mereka bergerak menuju Sektor 7. Area ini adalah labirin dari tangki-tangki raksasa dan pipa-pipa yang mendesis, tempat di mana hukum kerajaan tidak lebih dari sekadar rumor.

​"Tetap dalam formasi," bisik Gorn, suaranya teredam oleh masker kain yang ia kenakan.

​Arlan berjalan di sisi kanan, pedang pendeknya sudah berada di tangannya, namun belum dialiri Aura. Ia ingin menghemat setiap tetes energinya. Instingnya yang waspada terus berdenyut. Bau belerang dan asam kimia di sini sangat tajam, mengaburkan indra penciumannya.

​Penyergapan dimulai dengan cepat. Geng Taring Karat hanyalah kumpulan preman yang diperkuat oleh sedikit Aura Rank 1 yang kasar. Rina melontarkan bola api kecil yang meledak di tengah tumpukan tong, sementara Gorn menerjang seperti banteng baja, menghancurkan barikade mereka.

​Arlan bergerak seperti bayangan biru di antara uap panas. Ia tidak melakukan serangan besar. Ia hanya melakukan tusukan-tusukan efisien ke titik-titik vital—leher, celah ketiak, dan persendian. Setiap gerakannya adalah hasil dari latihan ribuan kali di kamar kontrakan yang sempit. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, gudang itu sudah dipenuhi dengan tubuh-tubuh yang terkapar.

​"Terlalu mudah," gumam Kael sambil menyeka belatinya.

​Arlan tidak menyahut. Ia justru merasakan bulu kuduknya berdiri. Udara di dalam gudang tiba-tiba terasa... padat. Frekuensi Aura yang asing dan jauh lebih tajam mulai merayap dari kegelapan di balik tangki-tangki kimia.

​“Mundur!” teriak Arlan tiba-tiba.

​Belum sempat suaranya hilang, sebuah gelombang Aura berwarna hitam pekat menghantam posisi mereka. Kael yang berada paling depan tidak sempat bereaksi; sebuah bayangan melintas dan dalam sekejap, lengannya terpisah dari bahunya. Teriakannya tertahan oleh ledakan tekanan udara.

​Dari balik kegelapan, muncul tiga sosok pria dengan masker logam yang menutupi seluruh wajah. Mereka tidak mengenakan lencana geng apa pun. Gerakan mereka sinkron, dingin, dan mematikan.

​"Rank 2... Tipe Assassin dan Vanguard," Arlan menganalisis dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. Ini bukan bagian dari laporan misi. Ini adalah penyergapan di dalam penyergapan.

​Salah satu penyerang, yang membawa pedang panjang dengan gerigi di sisinya, melesat ke arah Arlan. Kecepatannya jauh melampaui preman tadi. Ini adalah kecepatan murni dari pengguna Jalur Aura yang telah menguasai teknik pernapasan tingkat lanjut.

​Arlan segera mengalirkan seluruh Auranya ke pedang pendeknya. Teknik Arus Tenang: Aliran Putar.

​KLANG!

​Bentrokan logam itu menghasilkan percikan api keunguan. Arlan merasakan getaran hebat yang merambat dari pedangnya hingga ke tulang bahunya. Kekuatan musuhnya setara dengannya, namun gaya bertarungnya jauh lebih brutal.

​Pertempuran pecah menjadi kekacauan. Rina mencoba memberikan dukungan api, namun salah satu penyerang lain—seorang pengguna jalur Mana tipe Shadow—selalu muncul dari bayang-bayang untuk mengganggu konsentrasinya. Gorn sedang berjuang menahan dua orang sekaligus, palunya beradu dengan pedang-pedang yang terus mencari celah di zirah kulitnya.

​Arlan fokus pada lawannya. Ia tahu, dalam pertarungan tingkat tinggi, satu detik keraguan adalah kematian. Musuhnya menebas secara vertikal, menciptakan tekanan angin yang tajam. Arlan menghindar dengan memutar tubuhnya, namun musuh itu dengan licik mengubah arah tebasannya di tengah udara—sebuah teknik Rank 2 tingkat tinggi.

​Arlan mengangkat pedang pendeknya untuk menangkis.

​KRAK!

​Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Arlan. Pedang pendek kesayangannya—senjata yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir, yang ia asah setiap pagi dengan penuh ketekunan—patah menjadi dua. Bilahnya terlempar dan menancap di dinding beton di belakangnya.

​Mata penyerang itu berkilat di balik masker logam. Ia melihat celah. Tanpa membuang waktu, ia menusukkan pedang bergeriginya ke arah jantung Arlan.

​Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Arlan tidak panik. Ketekunannya selama ini dalam memahami "efisiensi gerak" mengambil alih. Ia tidak mencoba menarik senjata baru. Ia justru maju mendekati musuh, masuk ke dalam jangkauan yang sangat pendek di mana pedang panjang musuh menjadi tidak efektif.

​Ia membuang hulu pedangnya yang patah. Tangan kanannya mengeras, dilapisi oleh Aura yang dikompresi hingga ke titik maksimal. Ini adalah teknik terlarang yang pernah disebutkan dalam manual lamanya—Ledakan Arus Dalam. Teknik yang bisa merusak jalur energi penggunanya jika gagal.

​Arlan memukul pergelangan tangan musuh, membelokkan arah pedang itu hingga hanya menggores pinggangnya. Kemudian, dengan tangan kirinya, ia mencengkeram leher musuh, dan tangan kanannya menghantam tepat di ulu hati musuh dengan ledakan Aura murni.

​BOOM!

​Suara hantaman itu terdengar kusam, namun efeknya mematikan. Musuh itu terbatuk darah dari balik maskernya, organ dalamnya hancur seketika oleh getaran frekuensi Aura Arlan.

​Namun, Arlan juga membayar harganya. Tekanan balik dari teknik itu membuat pembuluh darah di lengannya pecah, membasahi mantel abu-abunya dengan darah segar.

​Di sisi lain gudang, Rina berhasil membakar salah satu penyerang, sementara Gorn akhirnya menjatuhkan lawan terakhirnya dengan hantaman palu yang menghancurkan lantai. Kael tergeletak tak sadarkan diri, pucat karena kehilangan banyak darah.

​Arlan jatuh terduduk, menyandarkan punggungnya pada tangki kimia yang dingin. Napasnya pendek-pendek dan berbau logam. Ia menatap hulu pedangnya yang patah di lantai. Ada rasa kehilangan yang aneh—benda mati itu adalah satu-satunya saksi bisu atas kerja kerasnya selama ini.

​Pandangannya mulai kabur. Rasa sakit dari pinggangnya yang robek dan lengannya yang hancur mulai mengaburkan kesadarannya. Ia melihat ke arah penyerang yang ia bunuh; pria itu tidak memiliki identitas. Mereka adalah pembunuh profesional yang dikirim untuk memastikan 'Debu Ungu' tetap menjadi rahasia.

​"Vane! Tetap bangun!" suara Gorn terdengar samar di kejauhan.

​Arlan mencoba mengangguk, namun kepalanya terasa sangat berat. Di dalam kegelapan yang mulai menyelimuti matanya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan rasa takut akan kematian, melainkan sebuah kekosongan yang sangat luas.

​Tiba-tiba, di tengah keheningan batinnya yang hampir pingsan, ia seolah mendengar suara deburan ombak... namun bukan ombak laut Lorgar yang kotor. Itu adalah suara ombak dari sesuatu yang jauh lebih luas, lebih dingin, dan tertutup oleh kabut putih yang tak berujung.

​Sebuah bayangan istana yang megah melintas sekilas di balik kelopak matanya yang tertutup.

​“Dunia ini... terlalu bising,” sebuah bisikan tanpa suara menggema di kepalanya.

​Arlan tidak tahu apakah itu halusinasi karena kehilangan darah atau sesuatu yang lain. Yang ia tahu, saat ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya di lantai gudang yang dingin itu, ia tidak lagi merasa seperti Arlan Vane sang tentara bayaran biasa. Ada sesuatu yang telah "terhubung" di dalam dirinya melalui luka-lukanya.

​Darahnya terus mengalir, membasahi lantai beton, sementara di kejauhan, peluit uap kota Lorgar melengking panjang, menyambut pagi yang akan mengubah hidupnya selamanya.

More Chapters