...Gelap.
Itu adalah kegelapan yang absolut. Bukan sekadar absennya cahaya, melainkan sebuah kehampaan yang menelan waktu, ruang, dan eksistensi. Di dalam rahim ketiadaan ini, sebuah kesadaran terlelap, terbungkus dalam kepompong abadi yang ditenun dari benang-benang sejarah yang telah usai.
Satu tahun. Sepuluh tahun. Seratus tahun.
Bagi entitas ini, angka-angka itu tidak memiliki makna. Waktu hanyalah sungai dangkal yang tidak bisa membasahi kakinya.
Lalu, sebuah getaran terjadi.
Kecil. Halus. Hampir tak terasa.
Seperti sebutir debu yang jatuh di atas permukaan danau yang membeku selama ribuan tahun.
Sepasang kelopak mata, yang telah tertutup selama sepuluh milenium, perlahan bergerak. Debu kosmik yang menempel di bulu matanya rontok, menjelma menjadi bintang-bintang kecil yang langsung padam di tengah kegelapan.
Deg.
Jantung yang telah berhenti berdetak sejak runtuhnya peradaban terakhir, kembali berdenyut. Gelombang kejutnya merambat keluar, meretakkan realitas di sekelilingnya. Kegelapan absolut itu tersentak, terbelah oleh seberkas cahaya keemasan yang redup namun purba.
Ia membuka mata.
Manik matanya adalah pusaran galaksi yang baru lahir, dingin dan tak berdasar. Di dalamnya, tidak ada emosi, tidak ada ingatan, hanya sebuah kekosongan yang perlahan terisi oleh rasa asing yang menjengkelkan.
“...Terlalu lama.”
Sebuah suara bergema. Suara itu bukan berasal dari tenggorokan, melainkan sebuah manifestasi kehendak yang langsung menggetarkan fondasi keberadaan. Suaranya terdengar jenuh, berat oleh beban waktu yang tak terhitung, namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
Ia mencoba bergerak. Tubuhnya, yang telah menyatu dengan singgasana batu kuno, terasa kaku. Singgasana itu sendiri melayang di atas lautan kabut abu-abu yang tak berujung—sebuah ruang yang tak tercantum dalam peta realitas mana pun.
Ini adalah The Mist Palace, istana yang tertidur bersama tuannya. Dan kini, pilar-pilar raksasanya yang terbuat dari obsidian mulai berpendar redup, menyambut kembalinya sang pemilik.
Sovereign. The Great Dreamer. Penguasa Otoritas.
Gelar-gelar itu melayang di dalam benaknya, terasa asing sekaligus familiar. Ia mencoba mengingat alasan mengapa ia tertidur, namun ingatannya seperti pecahan cermin yang berserakan di dasar laut yang gelap. Hanya satu hal yang tersisa: sebuah perjanjian yang belum usai.
Ia menopang dagu dengan tangan kanannya, menatap lautan kabut di bawah kakinya. Di luar sana, di dunia fana, peradaban telah tumbuh dan runtuh seperti rumput musim panas.
Ia menjentikkan jari tangan kirinya.
CTAK.
Bunyi jentikan itu terdengar seperti lonceng kematian.
Serpihan-serpihan kecil kekuatan dari ujung jarinya terlepas, jatuh menembus kabut, meluncur menuju dunia fana di bawah sana. Serpihan-serpihan itu tidak berbentuk energi, melainkan konsep—sebuah otoritas yang mencari wadah. Mereka akan menjelma menjadi pedang yang bisa berbisik, buku yang bisa menelan jiwa, atau makhluk hidup dengan ambisi dewa.
Mereka adalah "benih" keingintahuannya.
"Jika panggung sandiwara ini membosankan..." Ia bersandar pada singgasananya, tatapannya menembus ruang dan waktu, "...maka aku akan menciptakan para aktornya sendiri."
Di atas singgasana yang tak tersentuh oleh takdir, dial telah membuka mata. Dan dalam keheningan yang agung itu, ia menunggu suara pertama yang berani memecah kesunyian di istananya.
