Suara derap langkah logam bergema di lorong sempit bawah tanah. Xylos tidak lagi sendirian. Di belakangnya, empat Synthetic Purifiers kelas elite—unit pembunuh tanpa wajah yang dirancang khusus untuk memusnahkan anomali—melangkah dengan presisi yang mengerikan.
Ija tetap membelakangi mereka, tangannya masih menempel pada tabung kristal Mina. Ia bisa merasakan denyut jantung gadis itu—lemah, sinkron dengan frekuensi data yang dipancarkan oleh mesin di bawah lantai.
"Berhenti di situ, Ija," suara Xylos bergema, dingin dan tanpa ampun. "Jika kau menyentuh sistem stabilisasi itu lebih dalam, seluruh sektor ini akan mengalami crash total. Kau tidak hanya akan membunuh subjek ini, tapi kau akan menghapus eksistensi dirimu sendiri yang baru saja kau bentuk."
Ija tidak menoleh. Ia bisa melihat melalui pantulan kaca tabung bahwa kabel-kabel neon yang menancap di leher Mina mulai berkedip merah. Sistem sedang menjalankan protokol self-destruct.
"Kalian menyebut ini stabilisasi?" tanya Ija, suaranya tenang namun mengandung getaran frekuensi rendah yang membuat dinding lorong bergetar. "Ini adalah pencurian. Kalian mencuri bagian dari jiwaku untuk menopang simulasi kalian yang busuk."
Tanpa peringatan, Ija memutar tubuhnya. Bukan dengan pedang atau pukulan, melainkan dengan gelombang kejut data yang ia lepaskan dari genggamannya. Udara di lorong itu seolah terlipat. Keempat Purifiers di belakang Xylos mendadak membeku, sistem internal mereka mengalami looping tanpa henti hingga mereka meledak dari dalam.
Xylos terkejut, namun ia berhasil menahan serangan itu dengan perisai energi kromnya. Ia melesat maju, mengarahkan pedang void-nya tepat ke jantung Ija.
Ija tidak menghindar. Ia justru melangkah maju, membiarkan ujung pedang itu menembus bahunya. Darah segar menetes ke lantai, sesuatu yang jarang dirasakan Ija selama ini. Rasa sakit itu nyata, dan itu membuktikan bahwa ia benar-benar telah menjadi manusia.
"Kau berani terluka demi dia?" Xylos menyeringai, menekan pedangnya lebih dalam. "Kau kehilangan fokus, Ija!"
Ija mencengkeram lengan Xylos dengan tangan kirinya yang bersimbah darah. "Justru sebaliknya. Aku baru saja menemukan fokusku."
Dengan tangan kanannya, Ija menghantamkan kepalan tangannya ke panel kontrol utama di samping tabung Mina. Namun, ia tidak menghancurkannya. Ia mengambil alih. Dalam sekejap, simbol-simbol Administrator kuno muncul di layar monitor.
ACCESS GRANTED. OVERRIDING PROTOCOL.
Tabung kristal itu terbuka dengan desisan uap dingin. Mina terjatuh ke depan, langsung ke dalam dekapan Ija. Gadis itu masih tak sadarkan diri, namun saat kulit mereka bersentuhan, pendar cahaya keemasan menyelimuti keduanya.
Ija memejamkan mata, membagi sebagian energi hidupnya ke dalam tubuh Mina yang rapuh. Itu adalah pertaruhan besar; energinya terkuras drastis, membuat pandangannya mulai kabur.
"Tugasmu sudah selesai, Xylos," gumam Ija, kepalanya sedikit terkulai di bahu Mina. "Sekarang, giliranmu yang dihapus dari skenario ini."
Xylos hendak menarik pedangnya, namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan: pedangnya tidak lagi bisa ditarik. Pedang itu kini menyatu dengan struktur tubuh Ija yang telah bermutasi menjadi host bagi energi Mina.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Xylos, kepanikan pertama kali terdengar dalam suaranya.
"Aku mengembalikan apa yang menjadi milikku," jawab Ija.
Ledakan cahaya putih memenuhi lorong bawah tanah itu.
