Tanpa banyak penjelasan, Kaivan menyerahkan Tome itu kepada Ethan. Secara refleks, Ethan mengarahkan kamera ponselnya ke halaman tersebut, cara yang sudah mereka biasakan. Di layar, muncul kartu identitas seorang gadis berambut gelap. Wajahnya tenang dan polos, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.
Radit mengintip dari balik bahu Ethan. "Dia masih muda… mungkin lebih muda dari kita."
Langkah mereka membawa mereka ke sebuah kafe kecil di ujung jalan. Dinding bata merahnya terasa hangat, jendela besar memancarkan cahaya lembut, dan aroma kopi menyambut mereka dengan tenang.
Mereka masuk tanpa suara. Kaivan menyapu ruangan dengan tatapannya, Raphael tetap waspada di belakangnya, Ethan merapikan rambut seolah santai, sementara Radit mengamati sekitar tanpa menarik perhatian.
Mereka memilih meja di sudut, kecil dan bundar, cukup untuk empat orang. Kaivan duduk membelakangi dinding, Raphael di sebelah kanan dengan satu tangan di saku, Ethan di kiri bersandar sambil memainkan ponselnya, dan Radit menghadap pintu dengan kaki menyilang.
Jam tangan Ethan menunjukkan pukul 13.21. Ia mengetuk meja pelan sebelum mengangkat kepala. "Bukannya kita janjian sekitar jam segini? Di mana gadis itu?"
Kaivan meletakkan gelasnya, alisnya sedikit berkerut. "Iya… seharusnya dia sudah di sini," gumamnya, kembali menyapu ruangan. "Tapi tidak ada tanda-tandanya."
Tatapan mereka saling bertemu. Ketegangan halus menyelimuti meja, bahkan suara gesekan kursi dari pengunjung lain terdengar lebih tajam.
Radit, yang menopang dagunya, mengambil kentang goreng dan mencoba mencairkan suasana. "Mungkin Tome Omnicent-nya rusak. Ngasih info yang salah," candanya, meski matanya tetap tajam.
Kaivan langsung bereaksi. Ia mengeluarkan Tome dari tas selempangnya. Buku itu terbuka dengan sendirinya, halaman kosongnya memancarkan cahaya redup. "Tidak mungkin rusak," bisiknya, menempelkan telapak tangannya.
Perlahan, kata-kata muncul, berpendar seperti cahaya bintang yang memudar.
"Di depanmu, dekat jendela. Dia sudah duduk dari tadi."
Mereka serentak menoleh.
Di meja paling jauh, seorang gadis berambut cokelat karamel duduk sendirian, menatap keluar jendela dengan pandangan jauh. Cahaya sore menyentuh wajahnya, menggambar garis lembut di pipinya. Ia tampak seperti seseorang yang menyimpan banyak musim di balik diamnya, seperti musim gugur yang menahan hujan.
Wajahnya mirip dengan yang ada di Tome Omnicent, namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya kini lebih tajam, menyimpan ketegasan yang tak pernah terlihat di profilnya. Ia bukan lagi gadis lembut yang membeku dalam kenangan, melainkan seseorang yang telah melewati badai dan memilih untuk tetap berdiri.
Raphael, yang duduk agak menjauh, membuka ponselnya dan mengernyit. Ibu jarinya melayang di atas foto lama gadis itu.
"Tidak mungkin itu dia…" gumamnya pelan kepada Kaivan, tanpa melepaskan pandangan.
Kaivan tidak langsung menjawab. Ia mengamati gadis itu dalam diam, menimbang sesuatu di balik tatapannya. Sosok di foto terlihat lebih muda, lebih lembut, hampir naif. Namun yang duduk di sana sekarang… membawa ketegangan sunyi yang tak terucapkan.
Seolah dunia telah memaksanya belajar untuk selalu waspada.
Ethan bersandar, melirik sekilas lalu berbisik santai, mencoba mencairkan suasana. "Mungkin dia mewarnai rambutnya," ujarnya dengan senyum tipis.
Radit mengangguk pelan. "Bisa jadi. Mungkin diwarnai, terus diikat begitu. Kalau dilihat lama-lama, memang mirip."
Semua mata kembali tertuju pada gadis itu. Ia masih menatap langit di luar, bayangan pohon yang bergoyang terpantul di kaca jendela. Ekspresinya seakan berdiri di antara dua dunia, sosok yang dulu mereka kenal, dan sosok yang kini ia jadi.
Seorang pria tinggi dengan jaket kulit masuk dengan langkah santai. Ia menghampiri gadis itu, menarik kursi, lalu duduk di sampingnya. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam hiruk kafe.
"Sudah lama menunggu? Ayo ikut denganku."
Gadis itu menoleh dan mengangguk pelan. Ia berdiri tanpa terburu-buru, namun gerakannya menyimpan tujuan yang jelas. Dalam sekejap, hoodie pastel dan ekspresi lembutnya berubah menjadi siluet yang lebih tajam, seseorang yang tidak bisa diremehkan.
Ketegangan mengental.
Raphael memasukkan ponselnya, ekspresinya menegang. Ethan yang hendak mengambil rokok elektrik berhenti di tengah gerakan. Radit meletakkan kentangnya dan berdiri cepat.
Tak ada yang berbicara. Mereka saling memahami, lalu bergerak.
Mereka keluar dari kafe dan menyatu dengan keramaian di luar. Udara terasa lebih hangat. Klakson mobil dan langkah kaki yang terburu-buru menjadi latar samar. Tatapan mereka tetap terkunci pada gadis itu dan pria tersebut saat menyeberang menuju bangunan tua yang kusam.
Sebuah papan usang tergantung di atas pintu masuknya.
"HOTEL MELATI"
Mereka berhenti di seberang jalan, berlindung di balik truk yang terparkir.
Radit mendekat ke Kaivan dan berbisik, "Kaivan, kalau pria itu pacarnya bagaimana? Kenapa kita harus mengikuti mereka?" Suaranya menyimpan keraguan.
Kaivan tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan Tome Omnicent. Buku itu bergetar di tangannya, halaman-halamannya bergerak sendiri. Lalu perlahan, huruf-huruf keemasan muncul.
"Setelah dia masuk ke hotel,pria itu akan keluar kembali, usir pria itu. Bantu Livia."
Tatapan Kaivan menajam. Ia menutup buku itu dengan hati-hati, lalu berkata dengan suara rendah yang berat, seolah menandai awal sesuatu yang tak bisa mereka hindari.
"Menurut Tome Omnicent, kita tunggu sampai dia keluar. Setelah itu, kita bergerak."
