Kaivan menelan ludah. Tatapannya jatuh ke lantai kayu, tangannya menggenggam ujung bajunya seolah mencari pegangan di tengah gelombang cemas yang terus naik.
"Sungguh, Bu… aku tidak tahu apa-apa. Mereka cuma… tiba-tiba tidur di sebelahku," bisiknya, suaranya rapuh seperti angin yang menyelinap di celah sempit. Tubuhnya sedikit bergeser, gelisah, seakan mencari tempat bersembunyi.
Ibunya menyipitkan mata, mengamatinya dengan saksama, seolah membuka lapisan demi lapisan untuk menemukan kebenaran. Ia bersandar lebih dalam di kursi, tangannya menopang dagu.
"Mereka itu suka sama kamu, tahu," katanya, nada suaranya melembut namun tetap tegas. "Perempuan tidak akan tidur satu ruangan dengan laki-laki kalau tidak ada perasaan. Kamu yakin tidak melakukan apa-apa?"
Kaivan mengalihkan pandangan, matanya menatap dinding kosong. Kenangan berkelebat di pikirannya seperti potongan film lama.
"Mungkin Felicia…" gumamnya pelan. "Waktu di mal lama, aku bantu dia. Aku bilang… kita akan saling melindungi. Selamanya."
Ibunya menghela napas panjang. Tangannya terangkat, mengusap pelipis perlahan, lelah tergambar jelas di wajahnya.
"Ya ampun, Kaivan… kalau perempuan dengar kata seperti itu, itu bukan hal biasa. Itu terdengar seperti janji."
Tangannya turun, lalu ia menatap mata Kaivan, hangat dan khawatir bercampur.
"Kalau Thivi?" tanyanya lagi, kali ini lebih lembut.
Kaivan menggigit bibir bawahnya, berpikir sebelum menjawab. "Thivi hampir jatuh dari motornya, Bu. Aku bantu dia. Jadi dia pikir… aku orang yang baik."
Ibunya terdiam. Ia kembali menatap Kaivan, mencoba membaca kejujuran di wajahnya. Setelah beberapa saat, ia menghela napas pendek.
"Bagaimana kamu bisa ada di situasi seperti ini…" gumamnya pelan.
Kaivan mengecil, menundukkan kepala lebih dalam, rasa bersalah menyelimuti dirinya.
"Maaf, Bu," ucapnya serak.
Namun sebelum ia melanjutkan, ibunya mengangkat tangan, menghentikannya.
"Sudah cukup," katanya, kini lebih lembut, lebih bijak. "Jalani hidupmu dengan benar. Jangan melakukan hal ceroboh. Mau itu Thivi atau Felicia, siapa pun yang nanti kamu pilih, pilih yang benar-benar ada untukmu. Tapi ingat, kamu harus dewasa dulu. Harus stabil dulu. Baru kamu menikah dengan perempuan yang kamu cintai."
Senyum kecil, pahit namun hangat, terlukis di bibirnya.
"Buat ibu… Thivi dan Felicia sama-sama perempuan baik. Tapi kamu harus jadi orang dewasa dulu, Kaivan."
Kaivan mengangkat wajahnya, matanya berkilau. Ia mengangguk perlahan, menyerap setiap kata seperti embun pagi menyerap cahaya.
"Aku mengerti, Bu," jawabnya tulus.
Setelah sedikit membungkuk, ia membuka pintu dan kembali ke ruang depan.
Suasana sudah berubah.
Ethan duduk kaku di sofa, diapit Felicia dan Thivi yang condong ke arahnya. Pipi Felicia memerah, matanya tajam, sementara Thivi menyilangkan tangan dengan tegas. Suara mereka pelan, tapi nadanya jelas mengomel. Ethan tertawa kaku, mengangkat tangan seperti menyerah, lalu terdiam saat melihat Kaivan.
Begitu Kaivan muncul, Felicia dan Thivi langsung menoleh bersamaan. Mata mereka berbinar. Keduanya berdiri hampir bersamaan dan berjalan mendekat, anggun namun terburu.
Ethan hanya bisa memandang dengan ekspresi kasihan, seolah baru saja tersingkir dari panggung cerita.
"Jadi? Ibumu bilang apa?" tanya Felicia dan Thivi hampir bersamaan.
Kaivan tersenyum tipis, mencoba menenangkan suasana. "Tidak apa-apa. Ibu cuma bilang… jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi."
Felicia ragu. "Serius? Ibu tidak marah sama aku?"
Thivi tampak gelisah. "Dia tidak salah paham tentang aku, kan?"
Kaivan mengangguk, senyumnya tetap terjaga. "Tidak. Ibu mengerti. Selama hal seperti semalam tidak terjadi lagi."
Ethan menundukkan kepala, rasa bersalah jelas terlihat. "Maaf, semua… aku yang menunjukkan foto itu."
Kaivan menepuk bahunya. "Tidak apa-apa. Ayo, kita ke bengkel saja. Kita perlu menenangkan pikiran."
