Kemudian, Tome Omnicent yang berada di pangkuannya bergetar samar. Cahaya aneh berpendar di atas halaman, memperlihatkan kata-kata baru:
"Tinggalkan mobil sekarang dan berjalanlah menuju Gunung Puntang untuk mencapai Stasiun Radio Malabar."
Napas Isabel menjadi cepat. Berjalan kaki? Melewati hutan? Di malam hari? Bahaya bersembunyi di setiap bayangan. Namun tidak ada pilihan lain.
"Kita harus jalan kaki dari sini," bisiknya.
Raphael meliriknya, lalu tanpa berkata apa-apa menepikan mobil dan mematikan mesin. Mereka keluar. Angin malam yang dingin menyambut, menggigit kulit, mengantar mereka pada langkah pertama menuju perjalanan yang lebih gelap.
Dunia di luar terasa berbeda, seolah hidup dan mengawasi. Pepohonan menjulang tinggi, berbisik bersama angin, bayangannya memanjang seperti saksi bisu. Tanah lembap di bawah sepatu mereka mengingatkan bahwa malam ini akan panjang dan tanpa ampun.
Raphael menarik hoodie-nya, menutupi sebagian wajahnya, sementara Isabel merapatkan jaketnya. Mereka sendirian, berjalan menuju kegelapan yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami.
Hutan itu tampak seperti makhluk yang sedang tertidur, cabang-cabangnya menjulur seperti cakar. Angin malam membawa bisikan samar, seolah hutan itu sendiri bernapas.
Isabel menarik napas dalam, dadanya naik turun, berusaha menenangkan diri. Ia mengernyit melihat jalan setapak yang sempit dan bergumam setengah kesal, "Ah, ini konyol… aku belum pernah melakukan hal seperti ini."
Raphael yang berjalan beberapa langkah di belakangnya menatapnya hati-hati. Cahaya bulan mengenai garis tegas wajahnya, menciptakan bayangan yang menyiratkan sosok yang pernah ia jadi. "Kau belum pernah melakukan ini, ya?" katanya pelan. "Ini berbahaya, Isabel. Kalau kau ragu, kau bisa menunggu di mobil."
Ada keraguan dalam nadanya, seolah ia belum sepenuhnya percaya pada kemampuan Isabel. Namun Isabel hanya mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, tekad menyala di matanya. "Tidak, aku ikut. Aku harus membantu mereka."
Langkahnya menjadi lebih mantap saat ia melangkah masuk ke dalam hutan. Raphael berhenti sejenak, terkejut oleh keteguhannya. Ia sadar, ia telah meremehkannya. Sebuah perasaan aneh muncul, seperti rasa hormat… mungkin juga kekaguman.
Dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat di balik hoodie, Raphael menyusul. Mereka berjalan berdampingan, jalan di depan menanjak menuju kegelapan, seolah membawa mereka langsung ke jantung rahasia yang menunggu untuk terungkap.
Di dalam ruang bawah tanah yang lembap, Radit, Ethan, dan Frans perlahan sadar. Kepala mereka berdenyut, leher terasa nyeri, sisa efek obat atau pukulan. Udara terasa berat, dipenuhi bau karat dan tanah, membuat setiap tarikan napas terasa menyesakkan.
Cahaya kuning redup berkedip dari lampu tua, menciptakan bayangan menyeramkan di dinding batu. Frans membuka mata lebih dulu, kelopak matanya terasa berat. Saat penglihatannya mulai jelas, rasa takut merayap di dadanya.
"Di mana… kita?" suaranya serak.
Ia mencoba bergerak, tetapi tali tebal mengikat pergelangan tangan dan kakinya. Semakin ia meronta, semakin perih luka yang tercipta.
Radit menoleh, napasnya tidak teratur. "Sepertinya kita diculik." Nadanya datar, namun ketegangan terasa di baliknya.
Ethan, yang terikat di sudut ruangan, memeriksa tali di pergelangan tangannya. "Siapa yang melakukan ini?"
Radit tersenyum pahit. "Kalau tahu bakal begini, aku sudah menghabiskan sisa tomahawk steak itu."
Frans mendecak. "Serius? Sekarang?"
"Hey, kita butuh tenang. Sedikit humor membantu," balas Radit.
Ethan menghela napas, matanya menyapu ruangan, mencari peluang sekecil apa pun untuk melarikan diri.
Sementara itu, Raphael dan Isabel mencapai kaki Gunung Puntang. Kabut tipis menyelinap di antara pepohonan tinggi, menciptakan ilusi di antara bayangan. Hutan itu terasa hidup, mengawasi. Angin dingin menembus jaket Isabel, membuatnya menggigil.
"Ada singa atau harimau di sini?" tanyanya gugup, matanya bergerak ke segala arah.
Raphael menggeleng. "Hewan besar mungkin tidak. Tapi ular… mungkin ada. Kita tidak tahu apa yang menunggu."
Mereka terus berjalan. Di kejauhan, reruntuhan Stasiun Radio Malabar mulai terlihat, bangunan tua yang berdiri sunyi, atapnya runtuh, dindingnya retak dan tertutup debu waktu. Sisa-sisa dari masa yang telah lama hilang.
Isabel menatapnya, dadanya terasa sesak antara takut dan harapan. Ia perlahan membuka Tome Omnicent. Cahaya samar berdenyut dari halaman-halamannya, membentuk kata-kata yang melayang di atas kertas usang:
"Begitu kalian memasuki bawah tanah, ambil ruangan di sisi kiri lorong."
Ia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. "Baik," bisiknya, berusaha menenangkan suaranya. "Kita harus masuk ke bawah tanah, cari lorong di sebelah kiri,"
Raphael segera menutup mulutnya. Matanya menajam. "Pelankan suaramu," bisiknya.
