Cherreads

Chapter 4 - kerajaan manusia

Hana mengambilnya, mencium dan sedikit mencicipi. "Akh, rasa iya! Mirip kecap lah, tapi tidak terlalu manis seperti kecap yang aku bayangkan. Tapi gapapa, bisa aku modifikasi sedikit agar lebih enak!"

5 bulan kemudian, Hana membuat tepung dunia ini. "Ini, Jack—tepung yang kau minta."

"Oke, terima kasih Hana. Kau buat apa ini?"

"Kue untuk perpisahan kepada Dori. Aku ingin ke kerajaan manusia untuk melihat gerak-gerik mereka dari dekat."

"Oh oke, hati-hati saat perjalanan ya. Katanya dari para elf penjaga, mereka selalu melihat bandit dari gunung turun untuk merampok."

"Iya, aku akan hati-hati ko."

Akai pergi kembali ke bengkel Jack. Di sana, dia melihat seorang pemuda elf yang sibuk memahat kayu. "Siapa itu, Jack?"

"Oh, dia murid ku! Katanya dia ingin membuat panah lebih banyak untuk para elf penjaga desa. Biar mereka lebih siap kalo ada serangan lagi."

"Bagus banget." Akai mengangguk, lalu melihat ke arah Jack yang sedang menyelesaikan sesuatu. "Oh, aku ingin bilang—kalo waktu dekat aku akan pergi ke kerajaan manusia untuk membeli bumbu dapur dan juga mengawasi gerak-gerik mereka. Takut mereka akan datang lagi dengan pasukan yang lebih banyak."

Jack berhenti bekerja, mata nya memandang Akai dengan serius. "Kapan kau kembali?"

"Tidak tau juga. Mungkin sampe manusia tidak ada niat lagi untuk melawan para elf."

"Baiklah. Apa kau sudah bilang kepada Dori?"

"Belum. Aku baru mau bilang kepadanya."

"Oh begitu yah. Nah, lihat ini—aku sudah membuat pistol Glock! Biar kalo kau pergi, ada yang bisa kau gunakan selain kerambit mu." Jack mengambil pistol Glock yang baru selesai, mengangkatnya untuk ditunjukkan. Bahan besinya mengilap di bawah cahaya matahari.

"Oke, makasih. Aku akan mengambilnya."

Setelah itu, Akai bertemu Dori dan membuat roti dari tepung yang dibuat oleh Hana untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. "Ini, cobain!"

"Iya, ini enak sekali!" ucap Dori dengan senyum lebar.

"Kenapa kau tersenyum kepada ku? Apa wajah ku ada sesuatu?" tanya Dori dengan ragu.

"Tidak tau, kau sangat manis."

Dori langsung memerah sampai ke telinga runcingnya, kepalanya turun ke bawah. Setelah makan, Akai melihat wajah Dori yang senang, lalu mengambil keberanian untuk berbicara. "Dori, aku akan pergi ke kerajaan manusia yah—mungkin memantau gerak-gerik mereka agar tidak menyerang desa lagi."

Akai menoleh ke Dori, dan melihat air mata mulai menetes dari mata kecilnya. "Kau bercanda kan? Mengapa kau ingin pergi? Apa karena aku mengagu mu atau kau tidak suka tinggal disini?"

"Tidak, tidak sama sekali. Aku hanya ingin melindungi kalian dari balik layar. Aku akan kembali ko!"

"Janji iya? Janji ya!"

Akai dan Dori lalu melakukan janji dengan jari kelingking, saling menggenggam erat. Akai ingin langsung pergi, tapi tiba-tiba Dori memeluknya dari belakang, tangannya erat mengelilingi pinggangnya.

Akai memutar badan, sambil memegang pipi Dori yang basah karena menangis. "Jika aku kembali, kau tidak boleh cengeng dan harus jadi anak yang kuat. Apa kau bisa?"

"Iya... aku janji aku akan menjadi anak yang kuat dan tidak cengeng!" ujar Dori dengan suara yang sedikit gemetar tapi tegas.

Akai pun mulai berjalan meninggalkan desa, dan Dori tetap berdiri di tempat itu, melambaikan tangannya dengan kuat sambil menahan nangis.

Akai melanjutkan perjalanan ke kerajaan manusia. Di tengah padang rumput yang luas, dia melihat sekelompok bandit mengepung perajurit kerajaan yang sedang melindungi seseorang di dalam kereta kuda.

"Woii, menyerah saja kau! Kau tidak punya kesempatan untuk hidup!" teriak pemimpin bandit.

"Tidak, Tuan Putri! Jangan keluar! Pasti akan ada yang menolong anda!" ujar pengawal nya dengan panik.

"Hahahaa, menolong? Siapa yang akan menolong? Lihat sekitar mu—semua perajurit mu telah mati, tidak ada lagi manusia disini! Ataukah nanti ada manusia lari dan membantu kalian?" bandit tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba, Akai melesat dari semak tebal. Dia membunuh bandit satu per satu tanpa menimbulkan suara sedikit pun—gerakannya cepat dan tepat, seperti bayangan.

"Lori! Lori serang! Apa kah tidak mendengar kan ku? Aku bilang serang!" teriak pemimpin bandit kesal.

Tapi tidak ada yang menjawab. Pemimpin bandit melihat ke belakang dan menyaksikan semua anak buahnya sudah terjatuh mati. "Siapa kau?! Jawab aku—siapa kau jika tidak, kau akan....."

"Jika tidak apa yang akan kau lakukan? Katakan—jika tidak, kau akan ku bun..." Sebelum selesai bicara, kerambit Akai sudah memotong kepala bandit.

"Makasih, anak muda! Siapa nama mu?" tanya pengawal Tuan Putri dengan kagum.

"Nama ku adalah Akai."

"Terima kasih telah menolong kami, Akai! Kami akan membalas jasa mu!"

Tuan Putri lalu turun dari kereta kuda dan melihat Akai. Siapa dia? Ganteng nya! Apakah dia adalah pangeran yang ada di buku dongeng anak-anak? Jika Tuan Putri dalam bahaya, maka pangeran tampan akan datang menolong. Apakah dia datang menolong ku? Sial, dia ganteng banget... pikirnya dalam hati.

"Baiklah, aku akan pergi." kata Akai ingin melanjutkan perjalanan.

Mendengar itu, Tuan Putri langsung memanggilnya. "Tunggu! Kau telah menolong ku—aku akan mengantarkan mu ketempat tujuan mu. Katakan saja dimana tujuan mu?"

"Aku ingin mendatangi kerajaan."

"Oh, kebetulan! Kita sama arah. Masuk lah ke dalam kereta!"

"Tapi Tuan Putri, dia orang asing!" ujar pengawalan dengan khawatir.

"Dia telah menolong ku—harusnya aku membalas kebaikan nya. Itu namanya berterima kasih!" jawab Tuan Putri tegas.

"Sungguh, anda sudah dewasa... Padahal aku menganggap kau masih kecil ternyata kau sudah dewasa." pengawalan mengeluh pelan, tapi akhirnya mengizinkan Akai masuk.

Sambil menahan gembira, Tuan Putri menanyai asal Akai. "Kamu dari mana?"

"Aku dari desa jauh, ingin mencari pekerjaan."

Yah, walapun dia bukan pangeran, tapi ganteng aja sudah cukup untuk ku... dia berpikir, lalu pura-pura batuk. "Boleh aku tanya umur mu?"

"Umur ku 17 tahun."

"Oh sial! Umur kita sama! Apakah dia jodoh ku? Ganteng banget... Dia... hm, namaku Elena, putri kedua dari Kerajaan Laut Mentari. Jika kau butuh sesuatu, aku akan membuatnya sebagai tanda balas untuk mu."

"Oke."

"Ini ada koin emas untuk mu—mungkin kau membutuhkan untuk membeli sesuatu." Elena memberinya sekoin emas.

"Terima kasih, aku mengambil nya."

"Kita bersentuhan secara fisik loh! Hehehe, kapan lagi bisa melihat orang ganteng seperti mu!" ujar Elena dengan muka memerah.

Sore hari mereka tiba di Kerajaan Wari. Elena menunjukkan kerajaan Wari kepada Akai. "Lihat itu! Itu kerajaan dimana aku bersekolah di Akademinya."

"Bagus kerajaan nya." jawab Akai sambil tersenyum.

Senyum nya manis banget... Jika dia bisa menjadi pengawal ku, mungkin aku akan melihat nya tiap hari. pikir Elena.

"Baik, mungkin sudah saatnya aku turun."

"Baiklah, hati-hati." ucap Elena.

Akai melihat sekitar nya dan langsung mencari tempat bermalam. Saat akai berjalan, dia melihat anak bangsawan bernama Berlo menindas rakyat dengan melempar hasil jualannya.

"Apa kau tidak melihat aku?! Aku adalah bangsawan dan kau rakyat jelata—jika kau melihat ku, kau harus memberikan aku jalan dan tunduk pada ku!"

"Maafkan aku, aku sangat lelah dari pagi sampe sore belum istirahat dan belum makan..."

"Mengapa aku peduli?! Kau mau mati, capek, cacat—kelapangan aku tidak peduli! Kau adalah jelata, harus tunduk kepada ku!"

"Maafkan aku, maafkan aku..." sambil berlutut dan mencium kaki Tuan Muda Berlo.

"Cih!" sambil meludahi nya. "Jika kau menjilat ludah ku, aku akan mengampuni mu. Jika tidak, kau akan ku pukul!"

Sambil memikirkan ibunya yang sedang sakit, dia terpaksa menjilat ludahnya.

"Hahahahaha! Rakyat jelata harus begini—mendengar bangsawan, tidak boleh melawan!" hahahaha.

"Pukul dia!" ucap Tuan Muda Berlo.

"Tolong maafkan aku—aku sudah mengikuti apa yang kau kata, jadi tolong ampuni aku!"

"Rakyat jelata harus di ampuni? Jika cuma menyaksikan mu menjilat ludah ku maka tidak akan seru. Jadi kau harus dipukul supaya tau tempat rakyat jelata berada!"

Anak bangsawan langsung memukul rakyat itu sampai pingsan. "Jika kalian seperti anak ini, aku akan membuat kalian seperti ini juga!" teriaknya kepada orang-orang di sekitar.

Akai melihat dari kejauhan, tidak ingin menimbulkan masalah terlalu cepat. Dia melanjutkan jalan dan memasuki toko pakaian. "Apa ada pakaian warna hitam? Aku akan membayar 1 koin emas plus masker penutup wajah—tolong bikin kan secepatnya."

"Baiklah, tuan! Akan kubuat khusus untuk mu!" tukang jahitnya langsung bekerja.

Selama menunggu, Akai pergi mencari lokasi rumah bangsawan itu tinggal. Dia melihat ada 50 penjaga yang berjaga di depan mansion besar itu. "Yah, banyak juga..." pikirnya. Setelah itu, dia pergi makan dulu sampai kenyang.

Ketika malam tiba, Akai kembali ke toko pakaian. "Tuan, ikut saja untuk mengambil pakaian mu!" tukang jahitnya mengajaknya ke kamar belakang.

Setelah melihat pakaiannya—jas hitam yang ketat dan nyaman, plus masker yang menutupi sebagian wajah—Akai tersenyum. "Aku suka pakaian ini. Ini untuk mu." dia memberikan 1 koin emas.

Jam 1 malam, Akai menyelinap ke mansion bangsawan dengan hati hati. Gerakannya pelan seperti bayangan, menghindari penjaga yang sedang mengantuk. "Mengantuk sekali ya? Boleh aja istirahat sebentar..." gumamnya.

Dia sampai di kamar Tuan Muda Berlo dan melihat dua penjaga di depan pintu. Dengan cepat, Akai menyergap mereka dan membuat keduanya pingsan dengan pukulan tepat di leher. Dia memasuki kamar dan bersembunyi di bawah kasur.

Anak bangsawan yang sedang tidur terbangun dan merasa ada yang salah. "Siapa itu?!" dia melihat sekeliling, tapi tidak melihat apa apa. Dia mau membuka pintu untuk memanggil penjaga, tapi tiba-tiba Akai muncul dari belakang dan menancapkan kerambitnya tepat di lehernya.

Anak bangsawan jatuh mati tanpa sempat bersuara. Akai mengambil pensil dari mejam dan menulis di dinding dengan darahnya: "SOS - Untuk rakyat jelata"

Setelah itu, dia langsung keluar dari jendela dan menghilang ke dalam kegelapan malam, tanpa meninggalkan jejak apapun.

Paginya tiba. Pelayan membawa sarapan ke kamar Tuan Muda Berlo. "Tuan muda, sudah pagi! Ini aku membawa sarapan untuk mu—apa aku boleh masuk?" dia memanggilnya, tapi tidak menjawab.

"Cih, jika bukan karena kau bangsawan, aku tidak akan membawa kan sarapan untuk mu!" gumam pelayan itu, lalu memanggil lagi lebih keras. "Tuan muda! Aku tolong buka pintu, tuan muda!"

Pelayan lain mendatangi dan mencoba menyuarakan juga, tapi masih tidak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, orang tuanya Tuan Berlo datang untuk mengetuk pintu. "Anak ku, apa kamu baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab?"

Masih tidak ada bunyi. "Ayah, aku khawatir..." ujar ibunya dengan suara gemetar.

"Aku menyuruh membuka paksa pintu nya!" perintah ayahnya kepada penjaga.

Setelah pintu dibuka, mereka melihat Tuan Muda Berlo sudah terbaring mati di lantai. Ibu nya langsung histeris dan menangis teresak-esak. "Anak ku! Apa yang terjadi padamu?!"

"CARILAH PELAKUNYA! Cari sampai ketemu!" teriak ayahnya dengan marah yang luar biasa.

Dalam sekejap, berita kematian Tuan Muda Berlo menyebar ke seluruh Kerajaan Wari. Rakyat jelata yang mendengarnya merasa lega, tapi juga khawatir akan kemarahan keluarga bangsawan. Sementara itu, pasukan kerajaan mulai mencari jejak pelaku yang meninggalkan tulisan "SOS" di dinding...

More Chapters