Cherreads

Chapter 187 - Bab 187: Jerit di Ruangan Gelap, Langkah di Gerbang Antardunia

Di ruangan gelap dan sunyi… sebelum jeritan memecahnya.

Suara seorang gadis menggema, memantul di dinding batu yang dingin, membuat lorong-lorong gelap seolah ikut bergetar.

Di atas altar, Hina terbelenggu oleh gembok energi hitam—di tangan, di kaki, bahkan di pinggang. Setiap kali ia meronta, rantai-rantai sihir itu justru menekan lebih kuat, memaksa napasnya tersendat.

Di samping altar, seorang beastkin bertopeng bergerak tanpa ragu—menggeser piringan rune, menancapkan jarum kristal ke titik-titik lingkaran sihir, seolah sedang merakit sesuatu yang bukan untuk manusia.

Di hadapan Hina, Lunaria berdiri tenang.

Tatapannya… bukan tatapan orang yang sedang marah.

Itu tatapan orang yang sedang meneliti.

Hina:

"Apa yang ingin kau lakukan padaku?"

Lunaria tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan.

Energi anomali berputar seperti kabut pekat, lalu turun pelan ke arah lingkaran rune—dan saat kabut itu menyentuh belenggu Hina, rasa sakitnya menyambar seperti arus yang masuk ke tulang.

Hina:

"Huaa…a…a…aa…"

Hina menjerit lagi.

Namun tidak ada yang menolong.

Tidak ada yang datang.

Hanya suara rune yang berderak… dan napasnya sendiri yang pecah.

Beastkin bertopeng itu menggeser satu rune terakhir. Sebuah simbol di bawah tubuh Hina menyala—bukan terang, tapi gelap yang hidup.

Dan di detik itu, tubuh Hina menegang—lalu gemetar hebat.

Hina (dalam hati):

Bertahan…

Kalau aku menyerah… Ravien…

Aku harus… bertahan… sampai dia datang…

Kesadarannya hampir putus, tapi ia masih mendengar… suara langkah mendekat.

Sebuah suara berat—dingin, dan familiar bagi Lunaria.

Kaien:

"Bagaimana perkembangannya, sayang?"

Lunaria menoleh, senyumnya kecil—tajam.

Lunaria:

"Subjek ini memuaskan."

"Dia cocok, persis seperti yang Master perkirakan."

Kaien menyeringai.

Kaien:

"Sudah sampai mana tahapnya?"

"Dia benar-benar bisa melewati ekspektasi Master?"

Lunaria diam sebentar, menikmati momen itu, lalu menjawab pelan seperti membacakan hasil uji.

Lunaria:

"Dia melewati tahap tiga tanpa penolakan besar."

"Tekadnya kuat."

"Dan… dia memiliki sihir penyembuhan yang unik."

"Sesuatu yang tidak dimiliki subjek-subjek lain."

Kaien tertawa kecil—puas, seperti orang yang baru melihat balas dendamnya mulai berbentuk.

Kaien:

"Kalau begitu… setelah semua selesai, balas dendam kita akan terpenuhi."

"Dan Master akan melenyapkan musuh-musuh kita."

Lunaria mendekat ke Kaien, mengelus pipinya—lembut, tapi membuat Kaien refleks menahan napas. Ia tahu… Lunaria bisa lebih berbahaya daripada siapa pun yang pernah ia temui.

Lunaria:

"Tenang saja, sayang."

"Aku akan pastikan subjek ini menghasilkan 'nilai' yang Master inginkan."

"Supaya Master… memenuhi janji balas dendam kita."

Di altar, Hina masih punya sisa kesadaran. Ia mendengar tawa itu—tawa yang membuat darahnya dingin.

Hina (dalam hati):

Apa sebenarnya yang mereka lakukan terhadapku…?

Dan kalau ini terus berlanjut… apakah aku masih sanggup bertahan?

Tapi kalau aku tidak sanggup… Ravien dalam bahaya…

Demi Ravien… aku harus… bertahan…

Namun tubuhnya sudah mencapai batas.

Pandangan Hina kabur.

Suara rune menjauh.

Dan akhirnya, kesadarannya runtuh—Hina pingsan total, terkulai di belenggu.

Lunaria menatapnya lama, lalu berbisik seolah memuji mainan baru.

Lunaria:

"Menarik…"

"Subjek kali ini… jauh lebih memuaskan daripada yang lain."

—Kedatangan Lirya di Gerbang Antardunia

Sementara kesadaran Hina tenggelam di ruangan itu, di tempat lain seseorang baru saja menjejak Dunia Manusia.

Di gerbang antardunia—tempat jalur Elyndor dan Dunia Manusia bersinggungan—udara terasa berbeda. Seolah dua langit saling menekan dari arah berlawanan.

Cahaya retakan dimensi berdenyut.

Dan dari sana—melangkah keluar seorang wanita demon yang auranya membuat para penjaga menahan napas.

Lirya Vhal'Raine.

Dua sosok sudah menunggu:

seorang wanita demon yang rapi dan tenang, serta seorang pria elf dengan tatapan tajam seperti pisau.

Lirya tidak membuang waktu.

Lirya (dalam hati):

Kalau sampai paman—seorang raja—tak bisa berbuat banyak…

berarti ini bukan insiden kecil.

Dan Rei… tidak akan menyuruhku turun ke Dunia Manusia tanpa alasan.

Wanita demon itu maju satu langkah, menunduk hormat.

Veyra:

"Lapor, Nona."

"Dari orang-orang yang kami tempatkan dahulu."

"Saya telah mendapat informasi terkait Nona Seris dan Tuan Ravien."

"Lokasi mereka saat ini berada di area pinggir kota yang dekat dengan pantai."

"Dan tidak lama lagi mereka akan kembali."

Lirya menghembuskan napas pelan—lega sesaat.

Namun ia tahu… ketenangan itu biasanya cuma jeda sebelum badai.

Lirya menoleh ke pria elf di sampingnya.

Lirya:

"Edrin."

"Ada hal lain?"

Edrin menunduk, lalu bicara dengan ritme laporan yang terlatih—namun di matanya ada bayangan masalah.

Edrin:

"Lapor, Nona."

"Liburan Nona Seris sempat berjalan lancar."

"Ada pertengkaran kecil dengan Tuan Ravien, tapi mereda karena campur tangan seorang gadis."

Lirya mengernyit.

Lirya (dalam hati):

Gadis? Siapa yang bisa 'mengendurkan' Ravien selain keluarga…?

Namun sebelum ia sempat bertanya, Edrin melanjutkan—dan kalimat berikutnya mematahkan udara.

Edrin:

"Namun… ada kejadian besar."

"Gadis yang sempat meredakan keadaan itu…"

"…telah diculik."

"Tuan Ravien saat ini kehilangan jejak."

"Dan kemarahan beliau… sulit ditahan."

Wajah Lirya membeku.

Kata-kata Rei berputar lagi di kepalanya, sama persis seperti peringatan yang akhirnya menjadi kenyataan.

Lirya (dalam hati):

Ini yang Rei takutkan.

Itulah kenapa dia menyuruhku turun.

Baik… Ravien. Seris.

Kali ini kakak kalian tidak akan datang terlambat.

Lirya menatap Veyra dan Edrin, suaranya turun—dingin dan tegas.

Lirya:

"Kita pergi sekarang."

"Bawa aku ke mereka."

Veyra dan Edrin serempak mengangguk.

Veyra & Edrin:

"Baik, Nona."

Dan dalam sekejap, tiga sosok itu melesat meninggalkan gerbang—menuju pantai… menuju Ravien… menuju jejak Hina yang hilang.

More Chapters