Hari-hari setelah insiden papan pengumuman terasa seperti udara yang perlahan kembali normal.
Mina dan Natsumi menghabiskan beberapa hari belajar bersama—bukan hanya untuk mengejar nilai, tapi juga untuk menahan diri agar tidak runtuh.
Lalu ujian tengah semester datang.
Satu minggu penuh.
Ujian akademik… ujian non-akademik… jadwal yang padat membuat sekolah sibuk, dan gosip mulai tenggelam di bawah tumpukan soal.
Dan hasilnya—
Seperti yang semua orang duga.
Mina Sakurai meraih peringkat pertama.
Namun tidak ada sorak, tidak ada euforia.
Mina tetap sama: tenang, dingin, dan menjaga jarak. Teman-teman yang dulu menjauhinya mulai mencoba mendekat kembali, menyapa, tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi Mina tidak membiarkan dirinya larut.
Bukan karena sombong.
Tapi karena ia takut percaya.
Di sisi lain, Natsumi tetap menempel seperti bayangan—selalu ada, selalu menjaga, selalu memaksa Mina untuk "tidak sendirian".
Hari itu, setelah pengumuman liburan musim panas dua minggu, Natsumi menghampiri Mina di kelas.
Natsumi:
"Mina… kamu berhasil."
"Peringkat satu. Semua mata pelajaran."
Mina hanya merapikan buku-bukunya, suaranya datar.
Mina:
"Memang harus begitu."
Natsumi menahan senyum—lalu teringat janjinya sendiri.
Natsumi:
"Kamu ingat janjiku, kan?"
"Kalau kamu peringkat satu di semuanya… aku akan bantu kamu, dengan kemampuan aku… dan keluargaku."
Mina mengangkat wajah, sorot matanya dingin tapi lelah.
Mina:
"Tidak perlu."
"Aku akan hadapi sendiri."
Natsumi terdiam beberapa detik—bukan karena kalah, tapi karena ia paham Mina sedang menjaga harga dirinya dengan cara yang paling menyakitkan.
Mereka bersiap pulang.
Di koridor, poster hadiah lomba antar sekolah terpampang jelas: liburan ke pantai 3 hari 2 malam untuk para pemenang.
Natsumi melirik Mina.
Natsumi:
"Kamu… ikut ke pantai?"
Mina tidak langsung menjawab. Ada jeda yang panjang.
Mina:
"Aku tidak pergi."
"Aku libur di rumah saja."
Natsumi tidak memaksa. Ia hanya menatap Mina dengan mata yang mencoba mengerti.
Mereka melangkah menuju pintu kelas—
Namun tiba-tiba langkah Mina terhenti.
Di depan mereka berdiri sebuah bayangan tinggi, menutupi cahaya koridor.
Suara itu muncul—santai, tapi menampar telinga seperti penghinaan.
Hayato:
"Yo."
"Lama tidak bertemu, Mina."
"Gimana kabarmu? Apa kamu sudah merasa menang… karena memutus pertunangan kita?"
Mina menatap ke atas.
Dan dunia seolah mengecil.
Hayato berdiri di sana, terlihat lebih sehat dibanding beberapa hari lalu—bekas perawatan masih terasa dari aura wajahnya, tapi senyumnya… sama menjijikkan seperti biasa.
Natsumi refleks menegang.
Mina (dingin):
"Minggir."
"Aku tidak punya urusan lagi denganmu."
Hayato tertawa kecil, seperti menikmati.
Hayato:
"Oh… sudah berani sekarang."
"Tidak seperti dulu. Pengecut sampai menyakiti seseorang."
Langkah Mina berhenti total.
Natsumi ikut membeku.
Natsumi (pelan):
"Mina…"
Mina berbalik pelan, lalu berjalan mendekati Hayato.
Tidak terburu-buru.
Tidak panik.
Hanya—tenang yang menakutkan.
Dan—
PLAK!
Bunyi tamparan itu memantul pada dinding koridor—dan semua murid yang lewat seolah lupa cara bernapas.
Mina menatapnya, napasnya sedikit bergetar.
Mina:
"Itu semua karena ulahmu."
"Gara-gara egoismu, aku sampai harus mengatakan hal-hal kejam… pada Rei."
Hayato memegang pipinya sebentar.
Lalu tersenyum.
Bukan marah.
Justru… puas.
Hayato:
"Oh?"
"Ini semua salahku?"
"Bukan aku yang menyuruhmu menerimanya… padahal kau sudah bertunangan."
Mina mengepalkan tangan.
Hayato:
"Aku cuma ngomong fakta, Mina."
"Kau yang egois."
"Kau yang berkhianat."
"Kau yang ingin punya semuanya."
Mina mengangkat tangan lagi—tamparan kedua hampir terjadi.
Tapi Hayato menangkap pergelangan tangan Mina di udara.
Sekali genggam saja sudah cukup membuat Mina sulit bergerak.
Ia menarik Mina sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Mina—suara Hayato turun seperti bisikan racun.
Hayato (pelan):
"Ingat baik-baik."
"Keluargamu akan hancur… sebentar lagi."
Mina menahan napas.
Hayato:
"Semua perlawananmu… akan kubayar lunas."
"Bisnis keluargamu akan jatuh."
"Ayahmu… akan kubuat berlutut."
"Sebentar lagi."
Hayato melepas tangan Mina dengan santai, lalu berjalan pergi seperti tidak terjadi apa-apa.
Mina berdiri kaku, seolah seluruh darahnya berhenti mengalir.
Natsumi menggenggam bahu Mina, suaranya naik panik.
Natsumi:
"Mina! Sadar!"
"Kita bisa lawan. Aku bisa bantu!"
Mina menatap Natsumi, tapi matanya tidak benar-benar fokus.
Mina:
"Tidak bisa, Natsumi."
"Keluarga Hayato itu… berpengaruh."
"Tidak ada yang berani."
Natsumi menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis—senyum yang aneh, seperti menyimpan sesuatu.
Natsumi (dalam hati):
Untuk apa takut pada keluarga kecil seperti itu…
Kalau aku mau, aku bisa membuat mereka tidak berani bergerak.
Tapi… aku butuh sesuatu darimu, Mina.
Natsumi menarik tangan Mina, memaksa Mina bergerak.
Natsumi:
"Sudahlah."
"Lupakan Hayato."
"Ayo… bersenang-senang sedikit."
Mina menatapnya, lalu tersenyum lemah.
Mina (dalam hati):
Aku tahu kamu ingin membantu…
Tapi cukup… jangan tinggalkan aku.
—Pelukan Ibu dan Liburan yang Dipaksakan
Tiga puluh menit kemudian, Mina sampai di rumah.
Natsumi pamit di depan gerbang, lalu berjalan menjauh—dan di beberapa blok berikutnya, mobil keluarga Natsumi sudah menunggu.
Sementara itu Mina masuk ke rumahnya, melepas sepatu, suaranya lirih namun jelas.
Mina:
"Aku pulang."
Dari dalam, suara ibunya menyaut hangat.
Ibu Mina:
"Mina? Bagaimana ujianmu?"
Mina tersenyum kecil—untuk pertama kali hari itu, senyumnya tidak dibuat-buat.
Mina:
"Lancar, Bu."
"Aku… peringkat satu."
Ibunya langsung mendekat, matanya berbinar bangga.
Ibu Mina:
"Kamu sudah melakukan yang terbaik."
"Ibu bangga."
Mina menunduk.
Ada rasa hangat, tapi juga rasa sakit yang muncul bersamaan.
Mina:
"Aku bisa begitu… karena Rei tidak ada."
"Kalau Rei ada… aku tidak akan bisa peringkat satu."
Ibunya memeluk Mina erat, membelai punggungnya pelan.
Ibu Mina:
"Tidak usah menyalahkan dirimu terus, Nak."
"Rei… pasti akan memaafkanmu."
"Ibu yakin."
Mina memejamkan mata dalam pelukan itu.
Mina (dalam hati):
Aku ingin percaya, Bu…
Tapi waktu kami bertemu… Rei bahkan tidak melihatku.
Ibunya melepaskan pelukan, lalu tersenyum lembut.
Ibu Mina:
"Oh iya."
"Kamu sudah dapat libur musim panas, kan?"
"Bagaimana kalau kita liburan beberapa hari?"
Mina mengangkat kepala, ragu.
Mina:
"Libur… ke mana, Bu?"
"Kita masih punya masalah keluarga Hayato."
"Hayato tadi… mengancam keluarga kita."
Ibunya terdiam sejenak, lalu mengusap pipi Mina.
Ibu Mina:
"Tenang."
"Ayahmu sudah mengurus."
"Ini juga anjuran dari ayahmu."
Mina menelan ludah.
Ibu Mina:
"Kita hadapi bersama-sama."
"Lusa kita liburan, ya."
Mina akhirnya mengangguk, senyum kecilnya kembali muncul—lebih rapuh, tapi nyata.
Mina (dalam hati):
Terima kasih… Ibu. Ayah.
Karena kalian tidak membiarkanku sendirian.
Mina menatap lantai sebentar—lalu di dalam dadanya, nama itu muncul lagi.
Mina (dalam hati):
Dan Rei…
Suatu hari nanti, tolong dengarkan aku.
Meski aku tak bisa berdiri di sampingmu lagi… aku ingin kau tahu kebenarannya.
