Cherreads

Chapter 155 - Bab 155: Bisikan di Antara Langkah dan Air Kolam

Langkah kaki Ravien terdengar mantap menyusuri lorong luar hotel. Sore hari masih hangat, angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang samar. Tujuannya sederhana: sebuah toko kue kecil yang pernah ia kunjungi bersama Hina beberapa waktu lalu. Wajahnya tenang, pikirannya fokus, seolah dunia di sekitarnya tak lebih dari latar belakang yang berlalu begitu saja.

Namun ketenangan itu pecah ketika ia berpapasan dengan seorang wanita asing.

Topi lebarnya menutup separuh wajah, mantel gelapnya bergerak mengikuti angin.

Saat mereka bersisian—hanya sedetik—sebuah bisikan menempel di telinga Ravien.

Wanita Asing: "Pasangan yang menarik… gadis itu akan kurebut."

Langkah Ravien terhenti.

Alisnya berkerut, napasnya tertahan. Ia berbalik cepat.

Trotoar di belakangnya kosong.

Pandangan menyapu kanan-kiri—terlalu cepat untuk orang setenang Ravien.

Tak ada wanita. Tak ada bayangan. Hanya angin yang berhembus ringan, seolah menertawakannya.

Ravien mengepalkan tangan.

Ravien (dalam hati): 

Bukan imajinasi. Aku yakin itu suara wanita tadi…

Kata-kata itu terngiang, menusuk rasa kesalnya sekaligus menyalakan kekhawatiran yang sulit dijelaskan. Tanpa melanjutkan langkah ke toko kue, Ravien berbalik arah dan berlari menuju kolam renang hotel.

Ravien (dalam hati): 

Aku tak akan membiarkan Hina berada dalam bahaya. Siapa pun kau… jangan harap.

Sesampainya di kolam renang, suara tawa dan percikan air memenuhi udara. Namun saat Ravien tiba, matanya langsung menyapu area itu—dan wajahnya menegang.

Hina tidak ada.

Ravien menghampiri Rei.

Ravien : "Rei! Di mana Hina?!"

Nada suaranya panik, jauh berbeda dari biasanya.

Rei terkejut, begitu pula yang lain.

Airi :

"Eh? Ada apa, Ravien?"

Aelria :

"Kau kelihatan sangat cemas…"

Noelle dan Nerine saling pandang, sementara Rinna menghentikan gerakannya di air.

Riku :

"Ada masalah? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"

Ravien mengertakkan gigi, suaranya sedikit meninggi karena emosi yang tertahan.

Ravien :

"Jawab saja! Di mana Hina?!"

Melihat ekspresi Ravien yang begitu serius, Rei akhirnya menghela napas dan menjawab dengan jujur.

Rei :

"Hina bersama Seris. Dia bilang sedang kurang enak badan, jadi kembali ke kamar hotel."

Belum sempat yang lain bereaksi, Ravien sudah berbalik dan berlari meninggalkan mereka semua, menuju dalam hotel.

Airi menatap punggung Ravien yang menjauh.

Airi :

"Rei… sebenarnya apa yang terjadi?"

Rinna mengangkat bahu.

Rinna :

"Mungkin Ravien terlalu overprotektif kalau Hina ditinggal terlalu lama."

Aelria diam, matanya masih melihat Ravien yang sudah pergi menjauh.

Aelria (dalam hati): Tidak… rasanya bukan itu. Kekhawatirannya terlalu dalam. Seolah dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Rei tertawa kecil—terlalu kecil untuk terdengar wajar—seolah memaksa suasana kembali normal.

Rei :

"Mungkin dia lupa letak toko kuenya dan buru-buru mau nanya ke Hina."

Ucapan itu disambut tawa ringan dari yang lain.

Riku :

"Masuk akal juga—Ravien selalu ingin ditemani Hina."

Noelle dan Nerine ikut tertawa, sementara Airi mengangguk setuju.

Namun Aelria memperhatikan wajah Rei—senyumnya tipis, matanya menyimpan kegelisahan. Ia melangkah mendekat dan menyentuh bahu Rei dengan lembut.

Aelria :

"Rei…"

Rei menoleh, lalu mengelus kepala Aelria dengan senyum hangat.

Rei :

"Tidak perlu khawatir. Ravien cukup kuat untuk melindungi Hina."

Rei (dalam hati): Aku hanya berharap firasatku salah…

—Sekitar tiga puluh menit sebelumnya.

Hina masih berada di area kolam renang, duduk di kursi lounger sambil memegang segelas minuman yang diberikan Rei. Ia menatap langit sore dengan mata sayu namun penuh ketenangan.

Hina (dalam hati): 

Aku bahagia… benar-benar bahagia.

Di satu sisi, aku punya teman-teman yang selalu ada di sekelilingku.

Dan di sisi lain, aku juga memiliki seseorang yang mencintaiku dengan tulus dan berjanji melindungiku.

Sora muncul kembali, melompat di pangkuan Hina, mengeluarkan suara khas yang ceria seolah merasakan perasaan sang majikan.

Hina tersenyum, mengangkat Sora dan memeluknya.

Hina :

"Terima kasih, Sora. Kau juga sudah menemaniku saat aku sendirian."

Namun tubuhnya terasa semakin lemah. Perutnya kosong sejak tadi, dan tenaganya perlahan habis. Hina menghela napas pelan.

Hina (dalam hati):

Aku harus istirahat…

Ia menoleh ke Aelria.

Hina :

"Aelria, aku ingin kembali ke kamar. Tolong sampaikan pada Ravien… aku ada di kamar."

Aelria langsung berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran.

Aelria :

"Kau yakin tidak mau makan dulu? Kau kelihatan sangat pucat."

Hina :

"Tidak apa-apa. Aku takut makanan yang dibawa Ravien nanti tidak termakan. Minuman dari Rei sudah cukup."

Aelria masih ragu, lalu menoleh ke arah kolam.

Aelria :

"Seris, bisakah kau menemani Hina ke kamar?"

Seris, yang sedari tadi bermain air, langsung naik ke pinggir kolam.

Seris :

"Tentu. Hina sudah seperti kakak iparku. Tugasku menjaganya saat kakakku pergi."

Hina yang mendengar itu pun sempat tertegun dan malu.

Lalu Seris membantu Hina berdiri dan menuntunnya perlahan meninggalkan kolam.

Di dalam lift, suasana terasa hening.

Seris akhirnya membuka suara.

Seris :

"Terima kasih Hina… karena sudah membuat kakakku kembali seperti dulu."

Hina terkejut, lalu tersenyum lembut.

Hina :

"Aku juga berterima kasih. Berkat Ravien, aku merasa benar-benar hidup… dan bisa jujur pada diriku sendiri."

Seris tersenyum.

Seris :

"Aku akan mendukung keputusan kakakku, jika dia benar-benar menginginkanmu menjadi bagian dari keluarga kami."

Wajah Hina memerah mendengar kata-kata keluarga.

Seris yang melihat itu pun tertawa kecil.

Seris :

"Bukan hanya aku. Kakak pertama kami, Ka Lirya, pasti juga setuju."

Hina menunduk, hatinya hangat.

Hina :

"Terima kasih, Seris…"

Hina (dalam hati):

Aku benar-benar beruntung…

Bisa benar-benar mendapatkan cinta dan dukungan dari keluarganya.

Lift pun berhenti. Pintu terbuka.

Mereka keluar dan masuk ke kamar Hina. Seris mengambilkan sebotol air dan menyerahkannya.

Seris :

"Minumlah, lalu istirahat."

Hina menerima botol itu dengan anggukan.

Saat ia hendak meminumnya—

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan terdengar dari pintu kamar.

Seris menoleh.

Seris :

"Sepertinya itu kakakku."

Hina mengangguk pelan. Sora di sampingnya terlihat gelisah.

Hina mengelus Sora dengan lembut.

Hina :

"Tidak apa-apa… itu pasti Ravien."

Seris berjalan ke pintu dan membuka gagang pintu yang dingin.

Klik...

Di balik pintu… tampak sesosok berdiri di sana.

More Chapters