Cherreads

Chapter 145 - Bab 145: Ketukan dan Penantian

Pagi demi pagi, Mina menjalani rutinitas yang sama—namun sekarang wajahnya tidak lagi menyisakan kelembutan palsu yang dulu ia pakai untuk bertahan.

Ia tetap datang ke sekolah tepat waktu. Tetap duduk di kursinya. Tetap menatap papan tulis.

Tapi kali ini… tatapan orang-orang tidak lagi membuatnya gemetar.

Karena Mina sudah menerima satu kenyataan paling pahit: ia sendirian.

Di sekolah, tak ada sapaan. Tak ada senyum. Tak ada yang peduli apakah ia baik-baik saja.

Mina hanya belajar, lalu latihan sihir sendiri setelah jam pelajaran—seolah ia menebus sesuatu yang bahkan tidak bisa dibayar oleh kekuatan apa pun.

Namun kesendirian itu mulai retak… bukan karena Mina membuka pintu, melainkan karena ada seseorang yang terus mengetuknya tanpa lelah.

Seorang beastkin tipe kucing.

Dan namanya: Natsumi Kagehara.

Hari pertama Mina mengabaikannya.

Hari kedua Mina tetap mengabaikannya.

Hari ketiga, Mina makin dingin.

Tapi Natsumi tidak menyerah.

Bukan karena ia keras kepala semata—melainkan karena ia yakin, ada luka di balik mata Mina yang tidak mungkin dibuat-buat.

Natsumi pernah bertengkar dengan Mina. Melihat Mina yang egois. Melihat Mina jatuh.

Namun yang paling menusuk, adalah saat Natsumi menatap mata Mina di hari itu—mata yang seperti berkata:

"Aku salah… tapi aku juga hancur."

Hari-hari berlalu, dan sekolah mulai ramai membahas satu hal: ujian semester.

Di tengah kelas, Mina melihat teman-temannya mulai membuat kelompok belajar.

Mereka tertawa, bertukar catatan, menyusun jadwal, dan bercanda tentang soal yang akan keluar.

Mina tidak ikut.

Ia hanya melihat… dan untuk sedetik, masa lalu memantul di kepalanya.

Rei.

Aelria.

Meja belajar.

Tawa kecil.

Suasana hangat yang dulu ia kira… akan bertahan.

Mina menunduk, merapikan bukunya pelan.

Mina (pelan):

Bodohnya aku… berpikir masa itu akan terjadi lagi.

Ia berdiri, menenteng tasnya, lalu pulang—memilih belajar sendiri.

Di perjalanan, ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Dari Hayato.

Hayato (pesan):

"Mina. Datang ke rumah sakit. Aku mau bicara."

Mina menatap layar beberapa detik—tanpa emosi.

Lalu ia menghapus pesan itu, dan dengan satu gerakan tegas…

memblokir nomor Hayato.

Ia melanjutkan berjalan, tanpa menoleh.

Sesampainya di rumah, ibunya menyambut dengan senyum lelah namun tulus.

Ibu Mina:

"Kamu pulang, Nak."

Mina:

"Aku ke kamar dulu, Bu. Mau belajar."

Ibunya mengangguk, tidak menahan.

Ia hanya menuju dapur, menyiapkan makanan—seperti ingin memastikan Mina tetap makan meski dunia terasa berat.

Di kamar, Mina kembali teringat kilasan masa lalu itu—tawa Rei, suara Aelria, dan rasa damai yang kini hanya tinggal bayangan.

Mina (dalam hati):

Seandainya aku bisa mengulang waktu…

aku tidak akan membuat keputusan tanpa berpikir.

Ia duduk di meja belajar. Menarik napas. Mencoba fokus.

Mina (dalam hati):

Fokus dulu. Ujian dulu. Yang lain… nanti.

Di saat Mina sedang fokus pada materi...

Terdengar ketukan pelan dari luar kamar.

Ibu Mina:

"Mina… ada seorang gadis di ruang tamu."

"Dia beastkin… tipe kucing."

"Katanya… dia temanmu."

Mina membeku.

Alisnya menurun. Dadanya naik turun pelan.

Ia sudah tahu siapa.

Dengan langkah dingin, Mina turun ke lantai satu.

Dan benar—di ruang tamu, Natsumi Kagehara berdiri dan langsung menyapa.

Natsumi:

"Mina."

Mina tidak membalas sapaan itu.

Mina:

"Kamu nekat, ya."

"Datang ke rumahku dan bilang ke ibuku kalau kamu temanku."

"Mau apa sebenarnya?"

Natsumi menelan ludah, tapi tidak mundur.

Natsumi:

"Karena aku memang mau jadi temanmu."

"Aku tahu kamu punya alasan."

"Aku sudah bilang ke murid-murid lain… kamu pasti tidak melakukan itu tanpa sebab."

Mina memalingkan wajah, jelas tidak percaya.

Tepat saat itu, Ibu Mina meletakkan camilan dan minuman, lalu menatap Natsumi sebentar—seolah mengingat obrolan singkat mereka di teras tadi.

Ibu Mina:

"Sambut temanmu, Mina."

"Tadi ibu sempat tanya Natsumi sedikit… soal keadaanmu di sekolah."

"Ibu senang ada yang mau datang."

"Dan… ibu senang kamu masih punya teman, setelah kejadian Rei."

Kata "insiden Rei" membuat Mina menatap tajam.

Mina menoleh ke Natsumi, tatapannya menusuk.

Mina:

"Sejauh apa kamu bicara ke ibuku?"

"Nama Rei bukan bahan obrolan."

Natsumi langsung menunduk.

Natsumi:

"Maaf."

"Ibumu tanya… dan aku—aku tidak bisa bohong."

"Aku cuma… menjelaskan sedikit."

Namun sebelum Mina sempat meluapkan amarahnya, ibunya lebih dulu berbicara—suara lembutnya berubah jadi tegas.

Ibu Mina:

"Jangan salahkan Natsumi."

"Ibu yang minta."

"Ibu… terlalu lama tidak peduli dengan kehidupan sekolahmu."

Ibu Mina duduk di dekat putrinya, menatapnya dengan mata berkaca.

Ibu Mina:

"Mina… bukan kamu satu-satunya yang salah."

"Kesalahan terbesar… ada pada kami."

"Dan ibu percaya… Rei mungkin akan memaafkanmu, kalau dia tahu semuanya."

Mina mengepalkan jari pelan.

Mina:

"Aku… tidak tahu apakah Rei akan memaafkanku Bu."

"Dan… cepat atau lambat, Aelria pasti akan tahu apa yang terjadi pada Rei."

Natsumi berdiri, suaranya mendadak serius.

Natsumi:

"Tenang saja."

"Aku sudah berjanji—aku akan bantu kamu minta maaf."

Mina menatapnya lama.

Untuk pertama kali… ada celah kecil di wajah Mina.

Bukan senyum, tapi… keraguan yang tidak memusuhi.

Natsumi:

"Jadi… kita berteman, kan?"

Mina menghela napas tipis.

Mina:

"…Mungkin."

Ibu Mina tertawa kecil—tawa yang lebih mirip lega daripada bahagia.

Ibu Mina:

"Nah, itu."

"Terima saja dia."

Mina berdiri.

Mina:

"Kalau tidak ada urusan lagi, aku mau belajar."

Ia pergi ke kamar, meninggalkan ibunya dan Natsumi.

Ibu Mina menatap punggung putrinya, lalu menoleh pada Natsumi dengan wajah penuh rasa bersalah.

Ibu Mina:

"Maaf ya… Mina memang jadi seperti ini…"

Natsumi:

"Tidak apa-apa, Bu."

"Aku pernah salah menilai dia juga."

Ibu Mina menggenggam tangan Natsumi.

Ibu Mina:

"Tolong bantu putriku."

"Dia… menanggung kesalahan yang bahkan bukan murni miliknya."

Natsumi mengangguk mantap.

Natsumi:

"Saya janji Bu."

"Saya akan bantu Mina… pelan-pelan."

Lalu Natsumi pamit, karena sore mulai turun.

Di dalam kamar, Mina membuka buku—tapi untuk beberapa menit, ia hanya menatap halaman tanpa membaca.

Karena untuk pertama kalinya setelah lama…

Ada seseorang yang benar-benar tetap tinggal, meski Mina bersikap dingin.

—Gelisah di Toko Buah yang Sama (Kota Veyra, waktu yang berbeda)—

Di Kota Veyra, pagi datang dengan tenang.

Nyra bangun lebih awal, memasak sarapan untuk Kanna—seperti biasa.

Ia memanggil adiknya turun, lalu mereka makan bersama.

Di tengah suapan, Kanna menatap kakaknya dengan hati-hati.

Kanna:

"Kak… ada kabar dari Kak Garm?"

Nyra menahan gerakan tangannya sesaat.

Nyra:

"Belum."

Kanna menunduk, wajahnya cemas.

Kanna:

"Kanna harap Kak Garm baik-baik saja…"

Nyra mengangguk pelan.

Nyra:

"…Kakak juga."

Setelah makan, Nyra mengantar Kanna ke sekolah.

Di depan gerbang, Kanna sudah bergabung dengan teman-temannya, melambaikan tangan.

Nyra berdiri sebentar—melihat punggung adiknya menjauh—lalu ia pulang.

Namun di rumah, ia menyadari sesuatu: bahan makanan mulai menipis.

Nyra akhirnya memutuskan pergi ke pasar.

Ia berjalan melewati jalan yang familiar… sampai langkahnya berhenti tanpa sadar di depan toko buah itu.

Tempat di mana ia pertama kali bertemu Garm.

Nyra tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa sesak.

Bukan ketakutan yang jelas.

Bukan firasat yang bisa ia jelaskan.

Hanya… gelisah yang tiba-tiba datang seperti angin dingin menabrak dada.

Nyra memilih buah dengan cepat, seolah ingin segera pergi dari tempat itu.

Sesampainya di rumah, ia menyimpan semua belanjaannya, merapikan dapur… lalu duduk sebentar.

Sunyi.

Tidak ada kabar, pesan maupun jejak.

Nyra memandang ke arah pintu, seakan berharap pintu itu terbuka kapan saja.

Nyra (dalam hati):

Garm… kumohon kembalilah…

Aku tidak ingin kau seperti orang tuaku…

Ia menutup mata beberapa detik.

Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Garm baik-baik saja.

Namun gelisah itu… tidak pergi.

Dan entah kenapa—hari itu, untuk pertama kalinya sejak lama—Nyra merasa takut kehilangan… bahkan sebelum kehilangan itu benar-benar terjadi.

More Chapters