Hujan telah berhenti, tapi udara masih sarat kabut.
Sam berdiri diam di tengah peron, memandangi langit yang tak lagi memantulkan cahaya. Di kejauhan, jam besar di menara stasiun berdentang satu kali — dentang berat yang menggema hingga ke tulang.
Ia menatap sekeliling. Tak ada penumpang, tak ada petugas. Hanya kursi kayu basah, papan jadwal yang huruf-hurufnya telah mengelupas, dan secarik kertas yang kini menempel di tangannya — surat yang ia temukan di saku gaun.
Kertas itu lusuh, beraroma debu dan lilin. Tulisan di atasnya menurun rapi tapi dingin:
“Tuan Harven Kailn
Alverton Street No. 9
Kota Veinsworth”
Tangannya gemetar saat membacanya. Nama belakang itu — Kailn.
Nama yang kini menempel pada tubuhnya.
Ia menggenggam surat itu erat, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Kalau ini tubuh Sophia… berarti Tuan Harven…”
Kalimat itu tak selesai. Suaranya sendiri terdengar asing.
Ia melangkah keluar dari stasiun, menuruni anak tangga batu. Udara luar lebih dingin, penuh aroma hujan dan logam. Jalanan berbatu memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Di sisi kiri, kuda-kuda besi berbaris — patung tanpa penunggang, kepala mereka menunduk ke tanah seperti sedang berdoa.
Ia menatapnya lama. Batu-batu itu tampak basah, namun setiap kali hujan menetes di permukaannya, airnya mengalir ke arah yang sama — ke utara, ke arah jalan yang menuju alamat di surat.
Sam menelan ludah.
Ia merasa ada yang menuntunnya, sesuatu yang lebih tua dari logika.
Langkah pertamanya terasa berat, tapi ia terus berjalan. Gaun hitam panjang yang dikenakan Sophia terseret di jalan basah.
Di setiap sudut, ia melihat lampu minyak menyala di jendela, tapi tak ada wajah yang muncul di baliknya. Kota ini hidup — tapi tanpa manusia.
Angin membawa suara samar: seperti orang berbisik di balik tembok, menyebut namanya… atau nama Sophia.
“Kailn…”
“Ratu yang retak…”
“Bidak yang hilang…”
Ia menoleh cepat, tapi hanya kabut yang bergerak.
Tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya lagi. Simbol ratu itu masih ada — retaknya kini tampak lebih dalam, seolah setiap langkahnya menambah luka pada tanda itu. Kadang ia merasa simbol itu berdenyut, seirama dengan langkahnya sendiri.
Setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di sebuah papan kayu besar yang berdiri miring di tepi jalan. Tulisan di atasnya samar karena lumut dan waktu:
VEINSWORTH – 3 MIL
Jaraknya tidak jauh.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.
“Kalau aku bisa menemukan Tuan Harven, mungkin aku bisa tahu siapa sebenarnya Sophia ini…”
Namun setiap kali ia menyebut nama itu, dadanya terasa berat — seperti nama itu menolak diucapkan.
Langit di atasnya mulai berubah warna — biru gelap bergeser menjadi ungu. Kabut makin tebal. Di tengah jalan, ia melihat sesuatu berdiri di antara kabut: sosok manusia.
Lelaki tinggi mengenakan mantel panjang, berdiri diam memunggunginya.
Sam berhenti.
Sosok itu tidak bergerak.
“Permisi,” ucap Sam pelan. “Apakah ini jalan menuju Veinsworth?”
Tak ada jawaban.
Ia melangkah sedikit lebih dekat — lalu berhenti ketika melihat sesuatu yang aneh.
Bayangan sosok itu terpantul di genangan air… tapi bayangan itu menghadap ke arah Sam, tersenyum, sementara tubuh aslinya masih membelakangi.
Hatinya berdegup kencang.
Ia mundur satu langkah.
Bayangan itu perlahan mengangkat tangan, menunjuk lurus ke arah timur — arah yang sama dengan alamat di surat.
Hujan mulai turun lagi, kali ini lebih lembut.
Sosok itu berbalik. Tapi ketika Sam mengedip, ia sudah menghilang.
Yang tersisa hanya genangan air dengan pantulan samar — dan sepotong bidak catur yang mengapung di atasnya: ratu hitam yang retak di kepala.
Sam berjongkok, menatap benda kecil itu. Ia ragu untuk menyentuhnya, tapi sesuatu dalam dirinya — mungkin rasa ingin tahu Sam, bukan ketakutan Sophia — membuatnya mengulurkan tangan.
Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan air, dunia bergetar pelan. Cahaya lampu jalan memudar, suara hujan berubah menjadi gema jauh, dan di antara kabut ia mendengar bisikan:
“Langkah pertama telah diambil, Ratu.”
Ia tersentak, menarik tangannya cepat. Bidak itu tenggelam, menghilang di bawah air.
Ia memeluk koper di dadanya lebih erat, lalu mempercepat langkahnya.
Setelah beberapa saat, ia mulai melihat bayangan kota di kejauhan.
Menara tinggi dan atap miring, lampu-lampu minyak yang berbaris di sepanjang jalan utama, dan suara samar lonceng gereja. Tapi yang paling mencolok adalah bangunan di ujung jalan — rumah besar bergaya Victoria dengan jendela tinggi, berdiri sendirian di antara kabut.
Di depan gerbang besinya, plakat perak kusam menempel:
HARVEN KAILN RESIDENCE
Sam menatapnya lama.
Tangannya gemetar saat menyentuh pagar besi. Logamnya dingin, hampir terasa hidup.
Ia membuka surat itu lagi, memastikan alamatnya benar.
Huruf-huruf di kertas itu seolah bergeser, menyesuaikan diri. Kini tertulis:
“Tuan Harven Kailn — Menunggu di dalam.”
Matanya membesar. Ia belum menulis apa-apa di sana.
Kertas itu… menulis sendiri.
Dari dalam rumah, terdengar denting piano — pelan, lembut, tapi nadanya salah, seperti seseorang mencoba memainkan lagu dari ingatan yang rusak.
Ia menelan ludah, lalu mendorong pagar besi itu perlahan. Engselnya berderit panjang.
Udara di halaman terasa lebih dingin, hampir beku.
Setiap langkah di jalan batu menuju pintu utama membuat simbol di lehernya semakin panas.
Sesampainya di depan pintu, ia mengangkat tangan hendak mengetuk — namun sebelum sempat, pintu itu terbuka sendiri.
Cahaya lilin dari dalam ruangan menyapu wajahnya, dan suara halus namun tegas terdengar dari dalam:
“Selamat datang pulang, Nona Sophia Kailn.”
🌧️
