Bella mencium bibir Dev dengan lembut, melepas rindunya selama ini. Begitu juga Dev, menyambut hangatnya bibir Bella yang sudah lama tidak ia rasakan. Setelah beberapa saat Bella melepaskan bibirnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Dev.
"Gue kangen banget sama lo," ucap Bella lirih ditengah pelukannya.
Dev melepas pelan tangan Bella yang melingkar di tubuhnya. Ia tatap kedua mata Bella yang basah, lalu mundur satu langkah.
"Maafkan sikap saya barusan, Nona," ujar Dev menyesali telah membiarkan dirinya mencium Bella pada saat dia sedang bertugas, ia membungkukkan badannya ke arah Bella dan berkata, "Saya Dev Bentlee, untuk selanjutnya keamanan Nona Bella ada di tangan saya."
Bella tersenyum mendengar ucapan Dev.
"Lo udah kayak Tere," ucap Bella masih belum mempercayai Dev ada di hadapannya.
Dev menatap Bella dengan hangat, kemudian segera menyadari jika ia harus bersikap hormat pada Bella.
"Jadi lo sekarang bakal selalu ada disamping gue, 'kan?" tanya Bella sumringah.
"Betul, Nona," ucap Dev singkat, dengan wajah yang kaku.
Bahagia membuncah dalam hati Bella saat mendengarnya. Hatinya terasa hangat. Ia pun memeluk Dev lagi, namun dengan segera Dev melepaskan Bella.
"Maaf Nona, mohon anda menjaga sikap anda," ucap Dev tegas.
"Kenapa? Lo 'kan bodyguard gue. Gue bebas dong mau ngapain aja sama lo!" ucap Bella tidak sabar.
"Tugas saya menjaga keamanan Nona, bukan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya."
Bella memandang Dev dengan cemberut. Ia berjalan kembali menuju mejanya dan duduk di sana.
"Lo gak boleh ke mana-mana. Diem di posisi lo sampe gue selesain kerjaan gue," perintah Bella.
Dev berdiri di sana sepanjang Bella mengerjakan pekerjaannya. Sesekali Bella menatap ke arah Dev dan mengajak Dev mengobrol tentang hal-hal sederhana. Namun Dev menjawabnya dengan singkat, membuat Bella sangat gemas. Bella tidak henti-hentinya tersenyum karena kini Dev akan selalu ada bersamanya.
Jam menunjukkan waktu makan siang.
"Kita istirahat dulu." Bella beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Dev yang berdiri tidak jauh dari lift.
Bella melingkarkan tangannya pada tangan Dev dan berkata, "yuk kita makan."
Dev melepaskan tangan Bella, dan berkata "Nona, saya mohon. Saya masih dalam masa percobaan. Saya masih akan terus dipantau oleh Pak Leo. Tolong jangan mempersulit saya, saya masih harus mengganti rugi kerusakan dinding kaca itu."
"Di sini gak ada siapa-siapa, gue juga udah minta Tere buat matiin CCTV. Kita bebas ada di ruangan ini. Lo gak perlu sekaku itu sama gue," ucap Bella mulai tidak sabar.
"Nona, anda tidak bisa menyalahgunakan kekuasaan anda. Saya di sini untuk menjaga keamanan Nona, hanya itu yang akan saya lakukan di sini."
Bella merasa kesal dengan sikap Dev. Ia pun berjalan menuju lift dengan wajah yang ditekuk, Dev mengekor di belakangnya. Di dalam lift mereka tidak berbicara sama sekali. Hingga selesai makan dan kembali bekerja, tidak ada lagi percakapan yang dibuka oleh Bella. Bella tahu akan percuma mengajak Dev berbicara saat ini. Bella membiarkan Dev berdiri di ruangannya sampai waktunya Bella pulang.
Bella membereskan mejanya dan membawa tas tangannya, ia berjalan menuju lift diikuti oleh Dev. Bella merogoh tasnya dan menelpon Tere.
"Ter, lo gak usah ganti shift sama Dev. Dia lembur sampai pagi hari ini," ucap Bella kemudian menatap ke arah Dev yang berada di belakangnya. Wajah Dev terlihat terkejut mendengar ucapan Bella yang menginginkannya lembur untuk menjaganya hingga pagi nanti. Ia sudah kelelahan, bahkan ia sama sekali belum duduk sejak tadi pagi.
"Lo lembur hari ini sampai pagi ya. Gue mau ke mall, anterin gue belanja," ucap Bella dengan riang.
Bella berjalan menuju mobil yang sudah siap di depan lobi. Seorang supir keluar dari kursi kemudi, kemudian Bella masuk ke mobilnya dan Dev mengambil alih kursi kemudi mobil itu. Mobil pun melaju menuju sebuah mall di Jakarta.
Sampai di sana Bella keluar masuk beberapa toko dan membeli beberapa barang. Ia tidak memedulikan Dev yang sudah sangat kelelahan. Sesekali Bella tersenyum melihat Dev yang terus berjalan mengekornya dan menenteng banyak paper bag di tangannya. Kaki Dev sudah terasa sangat pegal karena ia seharian berdiri dan hanya duduk pada saat makan dan saat mengemudi saja. Untungnya saat Bella makan tadi siang, Dev juga makan sehingga dia masih memiliki tenaga untuk mengimbangi aktivitas Bella.
'Suruh siapa lo ninggalin gue. Sebagai gantinya, sekarang lo gak akan bisa jauh-jauh dari gue,' batin Bella dengan puas.
"Taro semua belanjaannya di kamar gue," perintah Bella pada Dev saat mereka memasuki apartemen.
Dev pun berjalan menuju kamar Bella, dan Bella mengikutinya. Saat Dev memasuki kamarnya, Bella mengunci pintu dan berdiri menyandar pada pintu itu.
"Waktu kerja lo udah selesai," ucap Bella.
Dev berjalan menuju pintu dan mencoba keluar dari kamar Bella. Bella masih menghalangi pintu untuk Dev keluar. Bella melepas nametag dan mematikan earpiece yang Dev kenakan.
"Sekarang lo udah gak tugas lagi. Tere pasti udah kasih tahu lo 'kan aturan-aturan kapan dan gimana lo selesai shift?"
"Mohon izinkan saya keluar dari sini," ucap Dev tidak memedulikan ucapan Bella.
"Dev! Gue pengen lo ngomong biasa sama gue, please. Gue kangen ngobrol sama lo," pinta Bella.
"Saya mohon, saya harus keluar dari sini," ucap Dev masih mencoba bersabar.
Seketika Dev terasa begitu menyebalkan bagi Bella. Bella mulai memukul-mukulkan tangannya pada dada Dev, merasa kesal karena Dev masih saja belum berhenti memperlakukannya dengan formal.
"Lo jahat! Lo gak bisa jujur sama perasaan lo! Gue tahu lo juga kangen 'kan sama gue? Lo gak nolak gue nyium lo tadi pas di kantor! Lo ada rasa sama gue tapi kenapa sih lo gak mau ngakuin?!" teriak Bella marah.
Dev memegang kedua tangan Bella yang terus memukulnya.
"Bel," akhirnya Dev memutuskan untuk mengikuti keinginan Bella dengan mematikan mode pengawalnya.
"Sekarang gue pengen nanya sama lo, maksud lo apa mecahin kaca itu dan ngejadiin gue pengawal pribadi lo?" tanya Dev kesal, ia merasa apa yang sudah dilakukannya selama ini dengan menjauhkan diri dari Bella telah berakhir dengan sia-sia.
Bella menatap Dev dengan marah. "Gue ngelakuin itu karena gue pengen lo selalu ada di deket gue! Salah lo sendiri kenapa lo pergi dari gue waktu itu!"
"Kenapa lo sampe segitunya sama gue? Kenapa lo pengen deket sama cowok kayak gue?!" tanya Dev yang kini terbawa emosi.
"Lo masih aja nanya kayak gitu? Gue udah bilang gue suka sama lo, gue sayang, gue cinta sama lo! Kenapa sih lo gak percaya? Lo emang gak pernah bilang suka sama gue, tapi gue bisa rasain lo juga sayang dengan tulus sama gue. Please, Dev. Gue mohon jangan ngehindarin gue lagi!"
Dev menyapukan rambutnya dengan kasar, kemudian memandang ke arah Bella.
"Dengerin gue baik-baik, Bel. Gue cuma pengangguran! Gue cuma orang buangan! Gue gak pantes disukain sama cewek kayak lo! Lo itu cantik, lo tajir, lo terbiasa hidup mewah. Kalau lo bareng gue, gue gak bisa ngasih itu semua! Lo bakal hidup susah dan gue gak mau lo kayak gitu. Gue juga gak bisa masuk ke dunia lo karena gue bukan siapa-siapa. Yang ada lo malah diketawain dan direndahin sama orang lain nantinya."
Bella terdiam. Akhirnya alasan Dev tidak ingin mengakui perasaannya selama ini ia dengar sendiri dari mulut Dev.
Bella menatap Dev sedih, kemudian berkata, "cuma gara-gara itu lo sampe gak bisa ngakuin perasaan lo sama gue?"
" 'cuma' lo bilang?!" ucap Dev marah.
"Iya. Lo lebih mentingin gengsi lo daripada perasaan lo dan juga perasaan gue! Asal lo tahu, gue udah ngorbanin hidup gue demi lo! Lo gak tahu, 'kan?" teriak Bella.
"Ngorbanin hidup lo? Maksud lo apa?" tanya Dev tidak mengerti.
