"Kau akan membantuku memperbaiki dunia ini?"
Anak muda itu menghadap kepada seorang anak.
"Aku ... akan menjadi pahlawan?"
"Ya ... pahlawan bagi mereka yang tidak bisa melawan."
—--------------------------------------------
"Paman, kau serius ingin melakukannya kepada orang itu?"
Dua manusia bersembunyi di balik kegelapan.
Dihadapan mereka terdapat sebuah bintang yang menyinari planet-planet senyap.
Sesosok lubang hitam memantau mereka.
Menunggu waktu yang tidak sempurna bagi sang bintang untuk beristirahat.
Sang bintang menjulurkan lidahnya.
"Tata surya seharusnya membuat acara seperti ini juga, tetapi targetnya adalah dunia itu sendiri. Hah? Apa? Tata surya tidak memakan hewan? Tapi, aku memakan batu dengan tumbuhan dan kurasa aku akan tertindih nanti," ucap sang bintang.
"Hmmm ... masuk akal."
"AWKWOKWWOKWK."
"Dia benar juga."
"Aku ingin pergi dari alam semesta ini..."
"Lebih baik kita berada dalam tangan perusahaan dibanding genggaman kamar sendiri."
"Coba saja dulu kita tetap menjadi kupu-kupu, dan tidak menjadi ulat."
"Seharusnya sang bintang saja yang menjadi orang tua-ku."
"Tidak ada harapan lagi di kandang ayam ini—
Owh, ada apa?"
"Maaf, bisa tolong menyingkir, ada sampah di kakimu."
"Owh, silahkan-silahkan."
Sang planet senyap mengeluarkan gelombang.
Lubang hitam melenyapkannya.
Kegelapan kembali ke tempat kelahirannya.
Menyusuri ribuan kesenyapan.
Mengabaikan ribuan jiwa, mematikan jutaan kehidupan.
"Paman, bukankah mereka mendukung batu?"
Anak muda diam, sama sekali ia tak menatap anak itu.
"Batu dalam pikiran mereka."
Dua bilah kain hitam berkibar di balik kegelapan.
Mata mereka tak terlihat.
Tertutup bayangan.
Cahaya yang terang adalah sebab.
Aroma besi setelahnya adalah alasan.
"P-p-paman—"
Mata anak itu menyusut.
Bibirnya tak bisa diam.
"Apa yang terjadi?"
"Siapa makhluk dengan kerudung hitam itu?"
Getah kembali bertemu dengan teman lamanya.
Walau, sekarang mereka tak lagi satu kesatuan.
Tetapi, entah kenapa mereka berdua tertawa.
Tidak ada yang bisa mendengar tawa itu.
Selain, seorang anak muda.
Dengan air di matanya.
Kerutan wajah.
Dan kedua ras gigi yang memperlihatkan tubuh mereka.
—----------------------------------------
Kedua planet biru bersembunyi di balik lubang hitam.
Matahari akan redup.
Hanya ledakan super dahsyat yang tersisa.
Kedua planet itu bergerak menuju alam semesta lain.
Tinggal menunggu waktu hingga semuanya beralih menjadi lubang hitam.
Karbon dioksida terhambat-hambat saat dikembalikan.
Kaki yang tak sanggup lagi berjalan.
Dada yang tak sanggup lagi berhenti.
Dan kulit yang tak sanggup lagi kering.
Mereka berdua beristirahat.
Di sebuah gudang tua.
Anak muda menyeret punggungnya pada papan besi berkarat.
Si anak melukai lututnya dengan kerikil.
"Paman, kita akan menyelamatkan dunia dengan cara ini?"
"Ya, tidak ada cara lain, Zana...
... tidak ada cara lain."
"Aku memikirkan apa yang akan dikatakan dunia jika kita berhasil menyelamatkannya?"
"Ya ... ini akan menjadi sesuatu yang sangat indah bagi para batu."
"Paman Qora!"
"O-qwh, y-ya?"
"Mari kita buat dunia ini menjadi tempat yang layak!"
Senyum anak muda itu keluar bersamaan dengan hilangnya bulan.
Awan hitam yang siap menantinya.
"Y-ya..."
Bersamaan dengan karat di punggungnya.
—----------------------------------------
"Paman, kenapa orang itu yang menjadi target mu?"
"Mereka mengatakan akan melenyapkan tata surya, tetapi mereka mendapatkan cahaya dari itu. Dan mereka menyebut hal bodoh itu karya? Cuih, seharga satu atom bensin pun tidak senilai."
"Kau marah?"
"Cih, waktuku akan terbuang sia-sia jika iya.
Intinya, aku mengincar orang yang saat ini sedang bersinar, walaupun ia bukan matahari ataupun sirius."
"Paman, aku lapar."
"Ya, aku sedang mencari batu yang bagus, tunggu sebentar."
-
Getah kembali menyatu dengan kayunya.
Aroma mawar menyelimuti bibirmu.
Menghangatkan gigimu.
Aku melihat duri terselip di sela giginya.
Kau akan menariknya?
Atau ...
Tidak...?
